Selasa, 15 April 2014

PUISI-PUISI

Penyair

Air mata yang kau titiskan
Di tubuh kata-kata putih
Kan menjelma peri –peri ajaib
Kepak sayapnya melintas waktu

Derita yang kau rangkaikan
Menjadi syair-syair cinta
Jejak abadi tak akan mati
bersama nafas terhenti

Rengkuh sepanjang jauh
Selam sedalam pendam
Bila kini tak dikenang
Nanti juga membayang

Kau yang mencari dirimu
Di keramaian yang semu
Dan di kesepian yang jemu
Kan ditemukan si orang lalu



Pesta Rakyat

Jangan campakkan benih itu
Pecahan jiwamu yang fitri
Nanti tumbuh di tepi hutan
Berteman bunga-bunga liar

Dengan apa kau mengeja tanda
Membaca kata di mata zaman
Selembar kasih kau tanamkan
menjadi kembang dalam mimpi

Kau dipilh untuk memilih
Kau tiada untuk mengada
Pada pesta rakyat ini
Satu suara untuk semua



PELAYARAN

Kita yang karam di laut tak bernama
Masih bermimpi tentang cakrawala
Setelah daratan terakhir, kita pun hilang
Dalam pusaran waktu menggulung

Tak tahu di mana akan membuang sauh
Tiada tanya pada kepak sayap elang
Mega-mega berarak membakar angan
Pada pelayaran yang kehilangan tuju

Tapi serasa kita masih seperti dulu
Bagai usia tak pernah beranjak
Meski seribu pulau telah dilampaui
Mengejar ilusi tanah seberang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar