Jalaluddin Rumi yang lahir di Balkh, Khurasan, Persia Utara tahun 1207, adalah penyair sufi mistik yang besar di samping Syech Sanai, Fariduddin Attar atau Omar Khayam. Banyak mengilhami penyair-penyair muslim yang datang kemudian, seperti Muhammad Iqbal, Sutardji Cazoum Bachri, sampai penyair Mandar Husni Jamaluddin. Iqbal sama dengan Rumi dalam menganggap puisi sebagai media sastra yang lebih efektif untuk menggerakkan jiwa audiensnya untuk lebih memahami menghayati berbagai aspek-aspek kehidupan, agama, filasat, perjuangan dan kerohanian. Sedangkan Sutarji telah menyunting sebuah manuskrip tentang Rumi oleh seorang ahli sufi barat, Reynold A. Nicholson yang berjudul “ Jalauddin Rumi : ajaran dan pengalaman sufi. Sementara Husni Jamaluddin kerap bercerita tentang laut dan sircumtancenya sebagai metafora perjalanan spiritual menuju Allah.
Abdul Hadi WM dalam esainya ‘ Rumi dan karya Profetiknya Masnawi’, telah mebahas secara selintas salah satu karya Rumi, Masnawi. Beliau mengatakan bahwa dalam Masnawi, Rumi bukan lagi seorang penyair sufi yang romantik, tapi seorang sufi yang telah matang dan arif. Dalam Masnawi, Rumi memencarkan pikiran-pikiran dalam untaian puisi, sebagaiman Nietzsche dalam bukunya yang masyhur, Also Spracht Zarathustra. Namun bila diteliti secara mendalam, untaian puisi yang tak habis-habisnya ( 25-000 bait syair) itu mampu membentuk jalinan pemikiran yang saling berkaitan satu sama lain. Whinfield misalnya mengatakan bahwa Masnawi merupakan eksposisi mistisisme eksperimental, bukan uraian mengenai ajaran Tasawuf.
Tapi untuk memahami Rumi lebih jelas kita mesti memahami juga berbagai –konsep-kosep sufi , terutama tentang Al Qur’an, Nabi dan Allah sebagai Wujud Mutlak. Bagi Sufi, Qur’an adalah firman ilahi yang terbuka dan tak terbatas, tiap-tiap huruf, kata dan kalimat yang terkandung di dalamnya memiliki makna yang bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis. Menurut mereka, Al Qur’an adalah kumpulan ayat, yakni tanda-tanda yang menggambarkan hakekat yang sesungguhnya. Qur’an turun dlam empat bentuk, yakni ibarah ( ungkapan tekstual), untuk orang awam, Isyarah ( mitzal ) untuk orang khusus, Lathai’f ( makna-makna yang lembut ) untuk para wali, dan Hakekat untuk para Nabi. Oleh karena itulah para sufi melihat Al Qur’an sebagai cakrawala yang luas tak berbatas.sebagaimana ilmuwan melihat alam semesta. Hal demikian dikarenakan Al Qur’an merupakan representasi dari Lauhil Mahfuzd yang melembari seluruh penciptaan-Nya.
Manusia tidak bisa mengenal Sang Wujud tanpa melalui nama-nama yang tersusun secara bertingkat, sehingga Nama yang di bawah memahami Nama di atasnya. Demikian terus terjadi secara bertahap, hingga sampai pada Nama Tertinggi ( Al-Ism al-A’zham). Nama tertinggi tersebut hanya bisa dipahami oleh Manusia Sempurna ( al Insan al-Kamil), yakni Nabi Muhammad SAW. Dan Manusia Sempurna hanya bisa dipahami oleh manusia-manusia suci, siapa manusia suci itu? Wallahu ‘alam, sejatimya hanya Allah yang tahu.
Untuk memahami Al Qur’an, para sufi berpegang pada makna yang ingin disampaikan Al Qur’an itu sendiri, dan bukan pada ragam yang mungkin bisa difahami darinya. Di sinilah muncul apa yang disebut metode Ta’wil, yaitu upaya untuk kembali kepada makna asal suatu kata yang digunakan akan menghantarkan pada pemahaman yang mungkin tepat, bukan benar. Tentang wujud, dari bahasa Arab wajada (menemukan), sedang wijdan adalah turunannya yang berarti intuisi. Dari makna kata itu, dipahami bahwa “ setiap yang berwujud pastilah menemukan dirinya sendiri, dalam derajad kesadaran yang berbeda-beda.”
Pengetahuan tentang Wujud Mutlak hadir dalan diri setiap yang maujud, dan secara langsung mengingat pengetahuan ini tak lain dari pada pengetahuan manusia tentang hakekat dirinya sendiri. Yang dimaksud manusia di sini adalah AKU atau Ego yang sadar, yang dengan penyaksian batinnya menyadari wujudnya, tanpa sarana pengindraan ( Man Arafah Nafsahu fa qad arafah Rabbahu ). Para ahli hikmah menyebut seluruh maujud selain Wujud Mutlak sabagai bayangan ( Syabah), panampakan ( Tajalli), nama ( Ism), tanda ( Ayah) atau perumpamaan ( Mitzal).
Untuk lebih memahami makna-makna yang terkandung di dalam Masnawi karya Jalaluddin Rumi, di sini saya akan sertakan komentar atas salah satu Masnawi oleh Sabzawari seperti yang dikutip J.T.P. De Brujn, Muhammad Estelami, dan John Cooper dalam buku mereka,” THE HERITAGE OF SUFISM. Classical Persion Sufism from its Origin to Rumi.
Wahai engkau yang sifat-sifatnya
Adalah ( sifat-sifat) matahari gnosis,
Sementara Matahari Langit
Hanya terselubung satu sifat saja
Terkadang engkau menjadi matahari,
Terkadang menjadi lautan,
Terkadang Gunung Qaf, terkadang Anqa.
Dalam Zat-Mu Eangkau bukanlah ini atau itu,
Engakau lebih agung dari dari segala yang bisa dibayangkan,
Dan lebih dari ‘lebih’.
Ruh adalah kepercayaan ilmu dan akal;
Apa kesamaan Ruh dengn bahasa Arab dan Turki?
Wahai Engkau yang, sekalipun bentuk-Mu banyak,
Masih saja tak terbayang;
Baik dengan kesatuan mutlak ( Muwahhid)
Dan panteis ( Musyabbi) Engkau sembunyi.
Sabzawari mengomentari kuplet pertama di atas bahwa “ karena ruh adalah wadah (mazhar) teofanik bagi semua sifat Ilahi, dan mengenal semua nama-nama Tuhan ( Asmaul Husna), sifat-ssifatnya adalah ‘Matahari Gnosis’, karena ia adalah kuil Keesaan Ilahi ( Haykal-I Tawhid) dan mejanjikan penjelasan komfrehensif ( mazhar-I jami) dari semua realitas ini, dalam kontradistingsi dengan matahari langit, yang merupakan wadah manifestasi dari beberapa sifat Ilahi.
Matahari, Lautan, Gunung Qaf dan Anqa dijelaskan sebagai berikut. Matahari digambarkan dengan sebuah syair Arab oleh Ibnu Arabi : Sesungguhnya hatiku telah menjadi penerima bagi segala bentuk, padang rumput bagi sekawanan rusa, dan biara bagi para rahib. Lautan ditafsirkan sebagai ‘ Lautan luas Kasih Tuhan dan eksistensi yang maha luas, yang seperti halnya Hakekat Muhammad, merupakan ‘ Kasih bagi seluruh dunia’. Gunung Qaf menengarai “ kekuatan efektif dari aktivitas Ilahi ( Qudra-I fa’aliyyah, karena hati seorang saleh yang setia adalah Singgasana Ilahi, mengingat hati adalah salah satu dari tujuh organ tubuh yang subtil ( lata’if).” Ia juga melambangkan dunia para panutan bayangan ( alam-I mitzal)
Tentang burung legendaris supranatural, Anqa, Sabzawari menjelaskan : ” Orang-orang menyebutnya dengan beragam nama, Ruh Suci ( ruh al Quds), malaikat ilham ( surusyi) berasal dari Zoroastrian, Hukum yang tertinggi ( Namus-I Akbar), Akal yang aktif ( Aql-I Fa’al), dan banyak nama lain dalam berbagai bahasa. Ia juga disebut memiliki ribuan kepala, sayap, paruh dan mampu menyanyikan banyak sekali melodi yang indah. Ini semua penafsiran yang dipergunakan untuk menggambarkan kesempurnaan dan perbuatannya-yang kesemuanya adalah cara kerja dari Intellectus in Actus.”
Dalam kuplet terakhir terlihat Rumi mengkontraskan orang beriman yang menihilkan semua perbandingan dan menjauhkan diri dari pemakaian bahasa metaforis untuk menggambarkan Tuhan ( Muwahhid) dengan orang yang sudah membentuk perbandingan dan melihat Tuhan dalam segala hal ( Musyabbih). Dalam dilemma ini Sabzawari memberi komentar filosofis yang jitu. Meski tak satupun dari persfektif teologis ini mengespresikan seluruh kebenaran, tentu saja, kekaguman yang dialami oleh mereka yang menggambarkan Tuhan dengan keserupaan manusiawi dan mereka yang memuliakan Tuhan di atas segala perbandingan, adalah disebabkan oleh “ Ruh Manusia Sejati ( Ruh-i Insan-I Kamil) yang merupakan Tanda Utama Kebenaran (Mazhar-I A’zam). Dari kepala sampai kaki, dia adalah cermin dan ilustrasi dari kedua Sifat Ilahi, yang transenden maupun yang imanen,” Manusia Sempurna, karenanya, adalah cermin harmoni, yang membentuk kuil keesaan Ilahi. Dia selanjutnya mengutip dua Hadis, “ Cahaya muncul dari pagi prakeabadian dan jejak-jejaknya berkilauan di kuil-kuil Keesaan Ilahi.” dan “ Jiwa Manusia adalah Jalan Yang Lurus,” untuk mendukung penafsirannya, untuk menyimpulkannnya dengan sebuah kutipan dari Al Qur’an, “ … dan dalam jiwamu, namun kamu tidak melihat.”
BLOG INI UNTUK BERBAGI RASA DAN PIKIR, LEBIH BAIK SALAH TAPI MEMBERI DARI PADA BENAR TAK MEMBERI
Tampilkan postingan dengan label Jalaluddin Rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalaluddin Rumi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Maret 2014
Minggu, 20 Februari 2011
KONSEP ILMU DALAM MASNAWI RUMI
Konsep Ilmu dalam Masnawi Jalaluddin Rumi. Dunia modern abad 20 dan 21 memang bangga akan kemajuannya dalam ilmu pengetahuan, industri, teknologi dan dalam modernisasi pendidikan dan relasi sosial. Dewasa ini, terdapat fasilitas2 modern untuk kehidupan, dan dengan itu sumber daya alam telah dikuras dan diperas demi melayani kebutuhan2 yang terus meningkat dan berubah. Namun sisi spritual manusia yang bersifat sangat eksistensial tampaknya diabaikan oleh manusia modern. Peradaban manusia mutakhir kini sangat membutuhkan guru2 dan pemandu spritual dalam pencarian makna hidup yang berakar pada cahaya Ilahiyah, dan Rumi adalah salah seorang guru yang bisa mencerahkan para pejalan (salik ). Pembacaan terhadap Rumi dapat membuka sebuah jendela pada sekolah gaib dalam hati manusia untuk menyingkap misteri-misteri yang hanya dapat dicapai lewat penglihatan batin. Ada dua definisi ilmu dalam Masnawi Rumi. Pertama, ilmu yang dihubungkan dengan eksistensi materi yang kasat mata yang bisa ditembus lewat fasilitas pendidikan. Kedua, ilmu yang tidak bersifat duniawi, tidak diajarkan di sekolah dan tidak ada dalam buku, laboratorium, atau lewat kajian akademis. Ilmu yang luar biasa ini memberi kesaksian kepada pemahaman terhadap kebenaran yang terletak di luar pemahaman manusia umum, atau kesadaran akan dunia gaib yang merupakan satu-satunya aspek eksistensi yang abadi. Dalam Masnawi, terdapat banyak kisah dan anekdot yang dengannya Rumi merujuk perbedaan dua konsep ilmu. Barangkali yang paling terkenal adalah kisah tentang ahli tata bahasa, seorang Nahwi, yang berangkat dengan kapal dan bertanya pada awak kapal: ” Pernakah kamu belajar nahwu (tata bahasa ) ?”. Ketika awak kapal menjawab bahwa dia tidak pernah belajar tata bahasa, sang Nahwi berkata kepadanya: ” Oh! Betapa kasihannya kamu, separu hidupmu telah sia-sia.” Sang awak kapal tidak menjawab langsung dan terdiam beberapa saat, sampai datang angin menghantam kapal. Kemudian sang awak kapal berteriak: ”Apakah kamu bisa berenang?” Ahli tata bahasa yang sombong ini menjawab bahwa dia tak akan pernah mau belajar berenang. Lalu sang awak kapal berkata: ”Oh Nahwi! Seluruh hidupmu telah sia-sia, karna kapal sedang tenggelam ke dalam gelombang air ini.” Diakhir anekdot ini, Rumi berkata: Di sini apa yang dibutuhkan adalah pelenyapan diri ( mahw), bukan tata bahasa (nahw ). Jika engkau lenyap dari diri, maka tenggelamlah ke laut itu, dan jangan takut akan ancaman atau bahaya. Menjadi paham di bidang studi skolastik tidak membuka jendela ke dunia gaib. Apa yang dibutuhkan untuk mencapai akhir itu, bukanlah fiqh atau sarf atau nahw. Kita membutuhkan ”hukum dari segala hukum” (fiqh-i-fiqh), ”bentuk-kata dari segala bentuk-kata” (sarf-i-sarf), dan ”tata-bahasa dari segala tata-bahasa” (nahw-i-nahw). Ungkapan ini diartikan Rumi sebagai pengetahuan yang diterima melalui relasi spritual dengan dunia Ilahi. Ungkapan lain untuk relasi ini adalah: pengetahuan ”dari sumber inti” (az an sar), yakni, pengetahuan yang tumbuh dari akar Ilahi. Ungkapan lain untuk kesadaran serupa adalah fath-i bab az sina, atau pembukaan pintu dalam hati seseorang: Setiap orang yang di dadanya (atau hatinya) pintu itu terkuak, akan memandang Matahari dari segala tempat. Jakarta 21 Februari 2011 Syafiyullah Pilman
Langganan:
Komentar (Atom)