Selasa, 07 April 2015

TRANSFORMASI CINTA RABI'AH AL ADAWIYAH

Wanita itu begitu dipuja dan dipuji, dicintai dan dikasihi, tempat berlabuhnya segala kekaguman, dambaan dan harapan. Tapi ia terus saja dengan tekun menjalani profesinya sebagai penyanyi terkenal dan penari yang eksotis, seksi lagi cantik rupawan. Dari istana ke istana, kemah ke kemah atau tempat hiburan satu ke tempat hiburan yang lain, dia berpindah memamerkan dan menunjukkan kebolehan dan pesonanya. Sehingga berjubel kaum pria yang menggandrungi dan bermaksud memetiknya untuk dijadikan sebagai teman hidup dan bunga di taman hati.

Wanita itu bernama Rabi’ah al Adawiyah, bunga kota Basrah di abad ke 2 hijriyah, pujaan kaum bangsawan, pejabat dan orang-orang kaya. Apalagi dia dikenal sangat ramah, cantik dan kaya pula, maka semakin majnunlah para pemuja dan pengidolanya. Kota Basrah di saat itu tentu tak sebesar Jakarta, apalagi London, Paris atau New York. Jangan membayangkan ada semacam cafe-cafe, diskotik, bar atau karaoke di Basrah. Kota itu lebih mirip kota Venesia yang mempunya kanal-kanal dengan arus air yang tenang untuk meluncurkan gondola ke segenap penjuru kota membawa para pelancong. Konon ada ribuan kanal di Basrah ketika itu. Kota tempat pertemuan sungai Tigris dan Eufrat yang dibangun oleh Khalifah Umar bin Khatab itu adalah kota budaya, ilmu dan bahasa. Di sini tempat berkumpulnya para ahli nahwu bahasa Arab. Ada sebuah pasar tempat berkumpulnya para sastrawan dan penyair untuk unjuk kebolehan. Tapi pastilah karakter dan kesibukan kota Basrah telah sampai ketaraf membuat penduduknya banyak yang merasa kesepian dan tertekan, sehingga bermunculan amusement centre, gedung konser, atau pusat tari perut. Mungkin juga karena kemajuan dan kemewahan kota yang membuat warganya lupa diri dan bersifat hedonis, seperti yang di alami penduduk Baghdad yang suka berfoya-foya dan berlupa sebelum akhirnya diluluh lantakkan oleh tentara mongol di bawah komando Hulagu Khan.

Dari latar inilah barangkali Rabi’ah al Adawiyah bertransformasi menjadi seorang sufi wanita muslim yang sangat saleh dan zuhud. Di tengah hingar-bingar dan hiruk-pikuk dunia gemerlap muncullah seorang Rabi’ah yang baru. Menghadapi lingkungan yang telah karam dalam kemewahan dan kebendan, di dalam hati Rabi’ah muncul kegelisahan, ketidak tenangan dalam menjalani hidup dan profesinya, sehingga kekayaan dan polpularitas yang telah diraihnya hanya dianggap serupa siul angin dan sekelumit debu yang tak lagi berarti. Rabi’ah seketika merasakan bahwa kehidupan malam yang dijalani dalam kesenangan bak fatamorgana, penuh glamor dan foya-foya hanya sebentuk kepalsuan belaka. Di jiwanya mengalami krisis, rasa berdosa yang membuatnya terguncang. Ia merasa lebih sensitif, bercampur perasaan panik, putus asa, ragu dan bimbang. Ada konflik didalmnya batinnya yang ingin dicarikan jalan keluar, tapi apa dan dimana solusi itu ia belum tahu pasti.

Rupanya ditengah kesehariannya yang indah dan nyaman, tapi penuh kemelut jiwa itu, ia telah terpesona melihat ketenangan batin orang-orang yang shalat di masjid, berzikir yang memancarkan keteduhan jiwa dan seolah tanpa beban. Rabi’ah setiap saat memperhatikan fenomena tersebut dan merasa tergugah, karena begitu bertolak belakang dengan keadaan jiwanya yang selalu gelisah dan tak tenang yang dilecut ambisi dan pengejaran keduniaan yang semu dan hanya maya belaka. Dalam hati kecilnya bertanya : Apa yang menjadikan mereka dapat begitu tenang, begitu sejuk di wajahnya?, padahal menurut Rabi’ah, mereka tampak begitu sederhana dalam berbekal dan berpakaian serta pada kendaraan yang mereka tumpangi.

Akhirnya Rabi’ah tak tahan lagi dengan keadaannya sendiri yang dianggapnya penuh derita dan kesia-siaan dibanding dengan kaum muslimin dan mu’minin yang telah ia saksikan sendiri perihal ketaqwaannya yang nyata dalam bentuk amal saleh. Ia segera ingin mengubah jalan hidupnya dan mengikuti jalan sirathal mustaqim. Didatanginya seorang guru wanita saleha, Hayyunah, untuk belajar agama dan kerohanian. Ia ingin memulai sebuah kehidupan yang memberi ketenangan jiwa dan kesejukan hati . bermunajat pada Tuhannya di setiap malam, meninggalkan canda dan kelakar yang tak berguna dengan teman-teman laman yang penuh kepura-puraan.

Rabi’ah secara mendadak menghilang dari kehidupan malam dan tempat-tempat hiburan, padahal ia tengah berada dipuncak kepopuleran sebagi penyanyi, penari papan atas dan selebriti Basrah. Banyak para infotainment kuno mencarinya untuk diajak kembali ke dunia hiburan. Tapi Rabi’ah bukan yang dulu lagi, yang suka mengumbar senyum dan lirikan mata ketengah khalayak, dan pengagumnnya yang terkadang bertepuk tangan gemuruh menyambutnya dan gila sendiri. Rabi’ah sekarang suka menyendiri dalam keheningan, berurai airmata menangisi dosa-dosanya yang lalu. Ia telah menemukan jalannya menuju Tuhan yang dicari dan dirindukannya. Ia tak mau lagi menjauh dari jalan kebenaran, karena telah menemukan cintanya, Allah Yang Maha lagi Maha Penyayang. Tak lagi berbekas rasa cintanya pada dunia gemerlap dan fana ini. Semua yang selain Allah telah ditinggalkannya.

Banyak orang terpandang berusaha mendekati dan melamar Rabi’ah karena kesalehan dan kecantikannya. Tapi semua itui ditanggapi dengan dingin oleh Rabi’ah. Diantara mereka ada begitu serius dan selalu penasaran pada sikap Rabi’ah yang enggan menjawab lamarannya. Akhirnya suatu hari Rabi’ah membuat pernyataaan terbuka : “ Yang akan saya terima lamarannya adalah yang sanggup memberikan kepastian nasib saya. Sementara ini saya dalam kecemasan menghadapi masa depan saya , sehingga tidak cukup waktu untuk memikirkan hal yang lain-lain. Waktu itu ada seseorang yang bertanya, “ Apa hal yang menjadi kegelisahanmu Rabi’ah? Dan Rabi’ah menjawab :
1. Saya ini pasti akan mati, namun saya belum tahu apakah saya mati nanti dalam keadaan husnul khotimah atau su’ul khotimah ( akhir hidup yang baik atau yang buruk).
2. Saya nanti, di padang makhsyar akan mempertanggung jawabkan amal-amal perbuatan saya selama hidup di dunia ini. Apakah amal-amal saya nanti diterima atau ditolak oleh Allah?.
3. Dosa-dosa saya ini sangat banyak sekali, saya berusaha bertaubat kepada Allah, namun saya sangat cemas, apakah taubat saya itu diterima oleh Allah atau ditolak?.
4. Nanti di akhirat semua orang akan mnerima catatan amalnya, sebagian orang menerimanya dari sisi kanan dan sebagian lagi dari sisi kiri. Saya cemas, dari sisi mana saya akan menerima catatan amal saya nanti?.
5. Akhirnya semua manusia akan terbagi dalam dua tempat, sebagian berada di sorga yang penuh nikmat dan kebahagiaan, dan sebagian lainnya di neraka yang penuh siksa dan penderitaan. Kemana nantinya akhirnya saya akan ditempatkan?.

Yang mendengar jawaban Rabi’ah tersebut semua terdiam. Kemudian Rabi’ah melanjutkan bicaranya : “ Kalau ternyata di antara kalian tidak ada yang sanggup memberikan kepastian , maka saya hanya akan menyerahkan cinta abadi saya kepada yang menguasai semua persoalan tersebut, Allah Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Besar Kasih dan Sayang-Nya.”

Demikianlah pada akhirnya, Rabi’ah al Adawiyah meninggalkan kehidupan yang bergelimang dosa dan pesta pora, dengan langkah pasti menuju kehidupan yang penuh cinta dan taqwa. Rabi’ah lalu kemudian menjadi rajin mengekspresikan keimanannya, dengan membuat puisi cinta yang indah demi Tuhannya, yang dinilainya mempunyai kecintaan yang tulus melebihi cinta ibu kepada anaknya. Cinta Rabi’ah adalah cinta mistik yang mentransendir diri, bukan cintanya para filosof dan kaum sekuler . cinta Rabi’ah adalah cinta ‘Mahabbah’ yang dikategorikan Al Gazali sebagai “ Tujuan tertinggi dari seluruh maqam dan puncak tertinggi segala tingkatan.”

Rabia’a telah termashur di ranah yang lain, yakni ranah cinta mahabbah, yaitu cinta sejati yang hanya menganggap Tuhan sebagai kekasihnya, bukan cinta egois yang semata mencari surga. Bagi Rabi’ah, cinta ( hubb atau mahabbah) berarti,” berkonsentrasi kepada Tuhan untuk membuang segala yang lain.” Hakekat keimanan Rabi’ah adalah,’ Aku tidak menyembah Dia karena takut pada api neraka, atau karena menginginkan surga-Nya, sehingga aku akan menjadi budak rendahan; namun aku menyembah Dia karena cinta dan kerinduanku kepada-Nya,’ dan Rabi’ah mengabadikan cintanya yang agung tersebut dalam syair di bawah ini :

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta :
Cinta egois dan cinta yang layak Engkau terima.
Cinta egois adalah cintaku
Dalam mengingat-Mu dan tiada lagi yang lain.
Tetapi demi cinta yang layak Engkau terima
Ah, lalu Engkau sibakkan selubung itu agar aku melihat-Mu.
Tiada pujian untukku dalam cinta manapun,
Segala puji itu milik-Mu dalam cinta yang ini dan cinta yang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar