Selasa, 14 April 2015

CINTA MEGAWATI YANG NGGA ADA MATINYA


I can’t stop loving you
I’ve made up my mind
To live in memory of the lonesome times
I cant stop wanting you
It’s useless to say
So I’II just live my life in dreams of yesterday

Those happy hours that we once knew
Tho long ago, they still make me blue
They say that times heals a broken heart
But time has stood still since we’ve been apart
..........

Di atas adalah syair lagu I can’t Stop Loving You yang dulu sangat dipopulerkan Ray Charles, juga oleh banyak penyanyi-penyanyi tenar dunia seperti Elvis Presley, Tom Jones, Jhony Tilotson, dll. Isinya sangat menggugah tentang sebuah keputusan untuk tidak berhenti mencinta, ‘Cinta yang tak kunjung mati’ itu kendati telah menimbulkan luka dan kesepian dalam waktu yang lama, tak juga bisa disembuhkan oleh waktu sebagai ‘the best healing’. Bahkan penyanyi telah memutuskan untuk hidup di alam kenangan, untuk mengabadikan cintanya yang agung.

Begitulah yang terjadi pada diri Megawati Soekarnoputri sebagaimana yang telah diungkapkannya dalam pidato pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan di Bali, Kamis 9 April lalu. Karena cinta ibu Mega yang tak kunjung padam pada bangsa dan negaranya, serta cita-cita dan pribadi ayahandanya yang adalah proklamator bangsa dan penyambung lidah rakyat Indonesia, Soekarno, maka Megawati telah meluapkan emosi cintanya itu secara tuntas dan lepas di arena kongres, sekalian menekankan perlunya untuk kembali mengingat komitment kebangsaan dengan meniti jalur ideologi,, persatuan, revolusi mental, kesabaran revolusioner, serta pembangunan yang sesuai dengan Pancasila dan cita-cita kerakyatan atau wong cilik yang menjadi Raison d’etre keberadaan PDIP.

Jadi pidato Mega itu sejatinya bertema atau bertopik ‘Cinta’, bukan insinuasi, apalagi mau dianggap melecehkan person tertentu,dan juga terhadap Jokowi dan JK, presiden dan wakil presiden terpilih. Karena beliau mencintai bangsa ini secara tanpa reserve dan parsial, maka cinta itu juga tentu ditujukan kepada presiden dan wakilnya, tentu yang dimaksud cinta seorang ibu kepada anaknya, atau cinta seorang ketua partai kepada kadernya yang telah dipercaya secara ikhlas untuk menjadi presiden. Dengan cintanya itulah, maka kepada RI 1 DAN RI 2 diperingatkan untuk berhati-hati pada kemungkinan adanya ‘penumpang gelap’ yang berkolaborasi dengan pemilik modal guna menguras sumber daya alam negara. Lalu siapa yang dimaksud dengan penumpang gelap dan pemilik modal tersebut, dan semua yang telah menelikung di tikungang. Atau mereka yang punya niat buruk menyeleweng dari cita-cita proklamasi dan ideologi bangsa, Pancasila. Kalaupun kita tahu secara persis, tentu tidak etis untuk tunjuk nama, karena istilah penumpang gelap juga bersifat polisemi dan banyakk sekali pelakunya. Dan yang namanya pemilik modal atau konglomerat juga sangat banyak yang bermain di ranah kekuasaan guna memamfaatkannya.

Kebiasaan kita yang sok bersih dan mau dibilang pejuang yang paling berjasa bagi bangsa, kadang karam dalam penilaian yang sempit dan tidak adil pada orang lain yang pasti juga punya kontribusi tak sedikit pada bangsa ini. Lebih baik pada introspeksi dirilah agar tidak malah menjadi ‘mata gelap’ menuding kanan-kiri demi membesarkan diri dan kelompok sendiri. Inilah yang sering terjadi di negara ini, suka saling tuding, saling menyalahkan dan menyecar dosa tetangga, cari selamat masing-masing, dan suka mengungkap aib orang jika muncul sebuah pidato dan statemen politik yang dinilai keras dan tajam seperti pidato Mega tersebut. Kita sibuk mereka-reka, memaknai dan menghapus makna yang mungkin bersifat laten, samar-samar dan potensial. Jarang yang mau melihat pidato Mega itu dari sudut pandang positif. Sejatinya pidato Mega itu bertopik Cinta yang bersembunyi dibalik wacana, jargon, labelling atau tehnik framing tertentu; cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada kepemimpinan yang bersifat mencerahkan, inspiratif dan penuh kepeloporan, cinta kepada kebenaran dan kejujuran, dan Cinta kepada bangsa yang di masa lalu juga disegani oleh dunia karena mampu mewujudkan prinsip ‘ Trisakti’ ; mandiri secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Jadi lebih baik kita berpikir positif dan memandang secara optimis pada teks ‘Cinta Abadi’ yang memukau itu

Megawati dalam pidatonya juga telah menunjukkan cintanya kepada Soekarno yang ngga ada matinya dengan menjadikannya sebagai model dan contoh kepemimpinan yang berani mengambil resiko dengan tak memperdulikan akibat. Dengan melaksanakan konferensi Asia-Afrika di tahun 1955, Soekarno telah unjuk dada kepada negara-negara yang disebutnya ‘ Old Established Force’ dengan menggalang kekuatan dan solidaritas negara-negara ‘ New Emerging Force’. Beliau ingin menularkan prinsip-prinsip otonomi dan kedaulatan penuh kepada seluruh negara-negara dunia ketiga, khususnya negara-negara Asia-Afrika agar mampu dan mau berkata ‘tidak’ pada setiap bentuk dominasi dan hegemoni, agar bisa maju dan berkembang serta berdiri di atas kaki sendiri, biar terbebas dari rivalitas Blok Barat dan Blok Timur, dan menjadi kelompok ‘ Negara-negara Non Blok ( Non Aligned Country). Dan sekarang pertanyaannya, apakah kepeloporan dan kepemimpinan Soekarno di dunia ketiga di era perang dingin itu, mampu diemban oleh presiden Jokowi dan wakilnya? Nah, itulah yang dirindukan dan diharapkan Megawati kepada Jokowi-JK.
Hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah realisasi dari keinginan melakukan ‘ Revolusi Mental’ yang adalah membangun manusia dan kebudayaannya, harus dilaksanakn dengan serius, terencana dan tidak tanggung-tanggung. Puan Maharani, cucu bung Karno itu yang adalah Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan masa hanya diberi alokasi dana sekitar 170 an milyar untuk gaweannya yang besar itu. Itupun harus dibagi dengan kementrian dasar dan menengah, kementerian agama, kementerian sosial. Memang pembangunan manusia yang identik dengan pembangunan kebudayaan sejak dulu tak pernah jadi prioritas dan beroleh dana yang memadai. Di masa orde baru dirjen kebudayaan saja rata-rata hanya mendapat alokasi dana di bawah 10 persen dari keseluruhan dana aggaran depertemen P & K itu. Fuad Hasan, menteri P&K ketika itu yang mengeluhkan minimnya aggaran kebudayaan. Padahal menurut beliau “ kebudayaan adalah identitas keberadaan kita, dan kekeroposan kesadaran identitas itu niscaya dalam jangka panjang akan lebih meresahkan”

Dan kini terbukti, kita telah menjadi bangsa yang seperti kehilangan karakter dan identitas, bangsa yang seperti tak punya kepribadian lagi, sehingga dirasa perlu untuk mengadakan ‘Revolusi Mental’. Anomi sosial dan alinasi kultural dalam bentuk disorientasi nilai-nilai dan norma-norma terjadi dimana-mana, pada segala segmen masyarakat. Mulai dari korupsi yang sudah membudaya dari kota sampai ke desa, atas hingga ke bawah, tawuran antar kampung, perkelahian pelajar, kelakuan gang motor yang meresahkan, pencabulan sampai perkelahian anggota parlemen yang memilukan, dan banyak lagi prilaku anomali yang membuat hampir-hampir bangsa ini kehilangan harapan.

Jadi sebuah program pemanusian dan pembudayaan harus dibuat secara sungguh-sungguh, mendasar dan konprehensif dengan melibatkan seluruh stakeholder masyarakat dan tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Masa dana pendidikan untuk membina intelektualitas dan ketrampilan sangat besar, sekitar 300 an triliun, sementara dana pembangunan manusia dan kebudayaan yang langsung terkait dengan mentalitas dan prilaku bangsa hanya kurang dari 200 milyar, sangat timpang kan? Seolah pembangunan manusia dan kebudayan hanya dianggap kosmetik dan Kementerian yang dimenterii oleh Puan Maharani seolah menjadi kementrian iseng-iseng aje.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar