Selasa, 17 Desember 2013

RENUNGAN BUDAYA


Betapa terkejutnya aku ketika bercermin di kaca Mandar, karena nyaris wajahku tak ada di sana. Maklum sedari kecil merantau dan bergaul dengan berbagai budaya lintas waktu dan ruang. Lalu kucoba melantunkan sebuah lagu Mandar, bukan hanya kata yang silap, tapi penghayatanpun nyaris tiada. Dalam hati bertanya, masih Mandarkah aku? apakah jika celanaku jeans, aku bukan Mandar? atau apakah bila aku telah fasih berbahasa Betawi, jawa, Sunda atau Inggeris, aku telah kehilangan ke Mandaranku?....ternyata hatiku bergumam dan protes pada tanya-tanta tak keruan itu. Katanya, Mandar adalah jiwa, semangat dan aspirasi, bukan pada bentuk-bentuk lahiriah yang remeh-temeh itu. Kebanggaan terhadap Mandar mestinya tidak terletak pada pernak-pernik lahiriah atau penampakan luar. Tapi pada lahirnya manusia-manusia Mandar yang di hatinya penuh kreasi, inovasi dan produktivitas.


Kayaknya kata hatiku itu ada benarnya juga. Apalagi bila melihat pada realitas orang-orang Mandar yang fasih mengutip pesan-pesan orang tua, lancar makkalindaqda, dan gemar menyanyikan lagu-lagu Mandar, tapi kelakuannya ya begitu-gitu saja, tak banyak berubah, masih seperti yang dulu, siri'ate, mau top sendiri, menganggap diri paling pintar dsb dsb. Pastilah kebudayaan Mandar akan mandeg jika diasuh oleh orang yang berkualitas demikian. Selain diri pribadi yang demikian sudah malas belajar, dus berkembang, juga berpotensi membunuh tunas-tunas baru yang hendak tumbuh dan mekar...

Yang parah jika sifat-sifat itu dimiliki oleh orang atasan atau elite, pasti akan melahirkan feodalisme budaya. WS Rendra pernah mengatakan bahwa dulumya manusia Indonesia termasuk Mandar tentunya, adalah manusia yang berharga diri dan bermartabat. Martabat dan harga diri tersebut adalah manifestasi dari budaya yang demokratis tempat daulat rakyat diakui. Di sini tumbuh tumbuh masyarakat dengan motivasi dan daya cita yang tinggi sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh budaya material yang beragam dan unik. Jika muncul penguasa budaya maka yang akan terjadi adalah elan vital dan semangat mencipta akan pupus.


Prilaku para penguasa dan komandan budaya di masa lalu adalah penyebab kita dijajah oleh bangsa lain. Jika kebudayaan tak mendapat ruang untuk berkembang wajar dan normal, maka konsekwensinya adalah kita akan terjajah secara fisik dan intelek. Soejatmoko mengatakan, jika kehidupan intelektual dan ruang bagi persilangan gagasan tidak ada dan atau sempit, maka masa depan bangsa dalam taruhan atau gawat. Jadi pembajakan kebudayaan oleh orang yang punya vested interest itu harus disudahi jika kita ingin melihat masa depan bangsa cerah dan gemilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar