Minggu, 20 April 2014

EMANSIPASI WANITA, MASIH PERLUKAH?

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua insan dalam asuhan dewata
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudutkerling wanita

Di atas adalah lirik lagu Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki yang dengan tepat memotret peran wanita yang lebih dominan dalam kehidupan katimbang pria. Awalnya memang perempuan dijajah pria, tapi pada akhirnya, pria akan bertekuk lutut juga pada wanita. Perempuan sejatinya tak pernah dijajah secara total, lahir dan batin oleh pria, hanya selalu dikerasi dan dikejami karena tubuh pria dikodratkan lebih besar dan kuat. Realitas alami itu membuat laki-laki sering dan suka melakukan KDRT atau memaksa dan memperkosa perempuan dalam kegelapan, dan di tempat terpencil. Dalam kelemahannya, wanita sejatinya diakui kekuatan dan kelebihannya oleh pria, makanya tindakan-tindakan tak senonoh dan amoral itu ditempuh untuk sesuatu apa yang ada pada wanita yang bisa membuatnya senang bila memiliki dan mati jika luput. Jadi rasa superioritas pria yang tampak sebenarnya manifestasi dari rasa rendahnya di depan kaum wanita.

Jadi sebenarnya yang terjajah itu pria, bukan wanita. Secara rohaniah ia selalu tertuju pada wanita, terikat oleh pesonanya, dan iri pada kecantikan dan lelembutannya. Tak terhitung sudah para pria berbunuhan untuk mendapatkan cinta wanita, dalam hal ini ia menjadi budak wanita yang dibutakan oleh cintanya. Kasus sebaliknya jarang terjadi. Begitu banyak pria melakukan tindak kejahatan seperti korupsi, mencuri, merampok dan membunuh karena pengaruh seorang wanita yang dicintai dan mencintainya. Sebuah negara sebesar dan sehebat Amerika Serikat pun lahir dari romantisme dan kekuatan cinta Raja Inggris, Henry VIII kepada seorang wanita Amerika, Anne Boleyn.

Masalah terjajah atau tidak adalah masalah interpretasi, dan urusan gender itu tak lebih dari pendefinisian peran wanita yang menyempit dan dibuat-buat dan lebih merupakan ungkapan politis katimbang budaya yang seharusnya menjadi acuan kita. Hal ini telah disinyalir oleh aktivis dan intelektual perempuan India, Gayatri Chakravorty Spivak. Dalam esainya yang dikutip oleh Catarina Kinwall, Spivak focus pada pada perempuan subaltern ( marginal) di Asia Selatan dan sejarah ‘sati’ ( janda yang membakar dirinya demi wujud kesetian pada suaminya yang baru meninggal ) untuk menunjukkan bagaimana perempuan subaltern dibangun dan dikendalikan dalam cara paradoksal oleh otoritas patrialkal tradisional dan oleh kolonialisme Inggris. Dalam teks, ia berpendapat bahwa representasi kolonial Inggeris tentang sati mengecualikan suara dan tubuh perempuan Hindu. Bukannya mendukung agen perempuan, penjajah Inggris justru menggunakan tubuh janda sebagai medan pertempuran ideology bagi kekuasaan colonial dengan demikian membenarkan eksploitasi sistematis atas wilayah itu sebagai misi peradaban ( sati sebelumnya dianggap tidak beradab).

Konstruksi pemikiran Spivak itu juga bisa sejajar dengan upaya mendiskreditkan konsep dan cara pandang terhadap wanita pada budaya dan agama tertentu. Misalnya dibolehkannya poligami dalam Islam yang sebenarnya merupakan jalan untuk melonggarkan institusi perkawinan yang kadang mentok pada hal-hal cinta dan kebatinan yang sukar ditanggulangi dan membuat satu keluarga menderita seumur hidup. Jalan keluar dari Islam bagi pasangan suami-istri yang tak punya lagi cinta atau bila istri cacat dan tak memberi keturuanan, ya, lebih baik kawin lagi atau berpoligami kalau masih ada yang mau, dari mencampakkan dan menceraikan wanita yang tidak produktif lagi.

Pejuang emansipas wanita kita, R.A. Kartini juga rela menjadi istri ke empat bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Tentu dengan syarat agar ia diizinkan untuk membangun sekolah wanita. Timbul pertanyaan, mengapa justru beliau yang dijadikan sebagai simbol kebangkitan dan emansipasi wanita Indonesia dan kemudian menjadi Pahlawan Nasional. Saya mencurigai ada yang telah memafaatkan kritik dan keprihatinan Kartini pada budaya patriarki Jawa, lalu menghubungkan dengan stasusnya sebagai istri ke empat untuk mendiskreditkan Islam. Tambah lagi oleh kekaguman Kartini pada budaya dan kehidupan bebas orang Eropah, khususnya Belanda yang terungkap dalam bukunya Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Wallahu ‘alam bissawab.

Seperti yang saya katakan di atas, bahwa persoalan keterjajahan kadang hanya masalah interpretasi. Dalam budaya Mandar atau di suku lain, dimana wanita adalah penentu bagi naiknya status seorang pria secara sosial dan feodal. Dengan mengawini seorang bangsawan tinggi, maka seorang pria akan juga terangkat menjadi bangwawan tinggi, bahkan menjadi Raja. Namun janganlah hal tersebut dimaknai bahwa perempuan adalah anak tangga yang harus diinjak untuk naik ke atas. Ini bersifat pejorative dan merendahkan status perempuan yang bagai batu loncatan saja. Seharusnya kita harus melihat perempuan Mandar itu ibarat seorang penguasa yang menentukan sesorang untuk menjadi bupati, gubernur, atau Presiden.

Bila dikatakan “ Child is the father of man” Sedang anak adalah cermin ibunya, maka siapa sebenarnya yang berkuasa? Janganlah kita terlalu membebani dan mengiming-imingi perempuan dengan tugas sosial politik yang muluk-muluk, misalnya dengan keharusan memenuhi kuota keanggotaan di parleman, atau bisa ikut menjadi penentu kebijakan negara dan bangsa, sebab dengan merawat dan membesarkan anak dengan cinta dan ketulusan, ibu yang seorang wanita sejatinya telah membangun kehidupan dan peradaban. Mana ada caleg perempuan yang kehilangan kesempatan menapak ke parlemen jadi stress,limbung dan hilang kesimbangan, hanya bila kehilangan anak tercintanya ia akan demikian.

Kalau sudah begini, masih perlukah emansipasi perempuan ? Kayaknya ngga perlu lagi deh, laki-laki kayaknya yang perlu minta emansipasi sekarang…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar