Senin, 14 November 2016

NGULIK FILSAFAT : RADIKALISME DAN SEKTARIANISME


Seringkali kita mendengar orang mengatakan bahwa belajar filsafat itu bisa menyesatkan, pembelajar bisa goyah pendirian, atau prinsip-prinsipnya. Atau yang lebih ektrim akan mengganggu keimanan seseorang. Itu benar jika seseorang hanya jadi pak turut dan mulai berfilsafat tanpa dasar yang kuat. Baru saja baca satu buku filsafat lantas berlagak mau mendekontruksi apa saja yang dibaca dan dipelajarinya. Agama lalu dianggap sebagai bola belaka yang bisa ditendang kesana-kemari, atau malahan menjadikan agama sebagai batu mulia yang hanya digosok-gosok untuk dipasang di jari kirinya sebagai hiasan belaka.jelas dua pandangan yang diametral bertentangan ini sama-sama mengerikan dan tak memberi pencerahan.

Jika belajar filsafat melahirkan fanatisme buta dan liberalisme bablas, maka filsafat bisa dianggap satu kesia-sian belaka. Padahal fisafat itu secara sederhananya bisa melahirkan manusia-manusia toleran yang mampu berempati dengan baik jika dipelajari secara sungguh dan terbuka. Jika dimasuki secara tanggung hanya akan menjadikan orang bisa berpikir tentang semua hal, termasuk pada setiap permasalah hidup pribadi maupun sosial. Dengan filsafat kita akan terhindar dari sikap nihilisme, relativism, dan serba skeptik pada semua hal. Kita akan menjadi orang yang SELALU berpikir positive dan terbuka pada dunia.

Ya, filsfat memang membuka hati dan jiwa seseorang, bukan hanya pada ranah kognisi tapi pada segala aspek kejiwaan manusia. orang akan lebih berwawasan, lebih peka melihat perbedaan, dan terutama akan lebih besar pemahamannya pada masalah-masalah duka atau derita orang. Tidak cepat memvonis, memberi label dan mencap orang dalam bingkai negatif dan subjektif. Juga tidak sok menjadi sang penyelamat dengan aneka sikap dan petuah yang tampak bijak tapi bajak. Tidak bertindak serampangan berdasar emosi dan penalaran dangkal, melainkan percaya pada proses pada solusi setiap masalah.

Di masa lalu kebanyakan para filsuf saling menegasikan satu sama lain, saling berebut panggung dengan membunuh pikiran-pikiran yang dianggap berseberangan dan subversif. Banyak yang beranggapan bahwa dunia bisa dirubah dan diatur dengan seperangkat ide yang dirasa paling benar. Maka terkenallah adagium Karl Marx bahwa filsafat harus bisa merubah dunia, bukan sekedar merenunginya. Dengan berbekal falsafah rasionalismenya yang intoleran, orang –orang barat merasa mempunyai misi untuk mengadabkan dunia yang masih berkubang dalam barbarisme dan prImitifisme yang penuh takhyul. Dengan demikian maka imperialisme dan kolonialisme menjadi imperative kendati harus dengan jalan merampas hak-hak dan properti bangsa lain.

Bangsa-bangsa yang merasa telah bangkit atau tercerahkan dengan kekuasaan yang tiba-tiba dimilikinya karena ketinggian ilmu dan teknologinya, sejatinya telah kehilangan kepekaan dan rasa empati yang dalam pada derita bangsa lain. Mereka tak mau membiarkan bangsa lain untuk mengalami sendiri masalahnya secara kreatif dan bertanggung jawab hingga bisa lebih dewasa dan mandiri nantinya. Mereka memaksakan sudut pandangnya dengan menawarkan solusi siap pakai dengan aneka bias yang nyata. Mereka ingin ketergantungan yang abadi dari bangsa-bangsa miskin secara emosional dan material. Dalam segalanya, mematikan kreativitas dan kemampuan inovasi bangsa-bangsa lain agar trus menjadi bebek-bebek yang setia.

Dalam hal ini ilmu dan filsafat tidak menghadirkan rasa empati kepada sang liyan yang mengalami derita berkepanjangan. Menurut adorno, pencerahan adalah otoritarian. Begitulah adanya, banyak orang-orang yang merasa telah tercerahkan maunya mendominasi orang lain dengan menempatkan diri lebih tinggi seperti dewa yang suci dan tak tersentuh dosa. Inilah yang banyak terjadi di negri kita. Dalam derita ummat misalnya yang telah merasa dilecehkan agamanya, banyak orang atau pemimpin yang memakai kacamatanya sendiri dalam melihat masalah. Tidak sanggup melihat sudut pandang yang berduka. Tidak rela melihat ummat merasakan sendiri duka dan pengalaman traumatisnya. Kebanyakan hanya berkata “jangan begitu dong,....berhentilah menuntut ini itu....demolah, pokoke jangan anarki!.” yang mengemuka adalah pilsafat pokoke.

Orang yang berfilsafat pokoke ini tidak rela orang yang berduka mengungkapkan seluruh perasaan dan uneg-unegnya tanpa takut diadli dan dituduh macam-macam.seharusnya orang hendaknya punya apa yang disebut Carl Rogers ‘ Unconditional Regards’ atau kepedulian tanpa syarat. Yang berwujud kasih dan cinta tanpa batas, disertai kerelaan untuk mengosongkan diri demi memasuki dunia pengalaman orang atau kelompok lain sebagaimana adanya. Mempersilah ummat mengalami, menghayati dan mengungkan rasanya secara utuh dan lengkap. Seharusnya menurut F. Schleimacher, seorang filsuf hermeneutika, jika mau beroeleh tafsir yang valid terhadap satu teks, seseorang atau komunitas, masukilah dunia psikologisnya, jangan hanya sampai pada aspek gramatikalnya saja. Dengan begitu akan diperoleh rencana action dan solusi yang tepat dan berkeadilan.

Filsafat juga menghindarkan kita dari obscurantisme yang membingungkan dan menjauhkan kita dari realitas. Disekitar kita akhir-akhir ini banyak sekali beredar istilah-istilah yang problematis secara semantik, dengan kata lain banyak kata yang telah diartikan secara salah kaprah. Bom yang mengguncang di Samarinda pada sebuah gereja yang telah melukai juga anak-anak tak berdosa memang harus dikutuk.Tapi jangan juga menimbulkan dampak ikutan berupa letupan wacana-wacana yang bernada kemarahan dan mencurigai secara langsung atau tidak kepada pihak-pihak yang tak tahu menahu atau tersangkut dengan bom itu. Sekarang ini berlayangan mantra-mantra dari pihak-pihak yang sudah berpikir a priori dan suka menggeneralisasi bahwa semua aktivitas atau gerakan Islam itu tidak baik dan harus selalu diwaspadai.

Istilah yang kini sering disitir dan diplintir adalah kata ‘deradikalisasi’. Kata yang seharusnya menyasar kepada tindak terorisme, sepertinya juga mau dipakai untuk membatasi setiap ungkapan yang kritis dari ummat Islam secara keseluruhan. Sejatinya diluar urusan terorisme, seorang itu mesti bersikap radikal pada apa yang diyakininya. Yang mungkin tidak baik adalah sikap ‘Sektarian’ . Menurut Paulo Freire orang yang radikal itu punya komitmen mendasar pada keyakinannya. sehingga akan selalu rendah hati, penuh cinta, tapi kritis, mengedepankan komunikasi dan selalu berpikir positive. Dia yang telah memilih pada satu kebenaran yang diyakininya, akan juga menghargai pilihan orang lain, tidak akan memaksakan kehendaknya. Dia mungkin sangat yakin dengan kebenarannya, tapi tetap menghargai hak prerogative orang lain yang juga menganggap dirinya benar. Radikal dalam berpikir adalah seperti sikap Voltaire yang mengatakan “ saya mungkin tak setuju dengan pendapat anda, tapi saya akan membela sampai mati hak anda unuk mengatakannya”.

Lawan dari sikap radikal adalah, sektarianisme. Agar lebih dipahami tentang apa sektarian itu, disini saya kutip pandangan Paulo Freire dalam ungkapan aslinya, “ Sectarianism is predominantly emotional and uncritical. It is arrogant, anti dialogical and anti communicative. It is a reactionary stance, whether on the part of a rightis or a leftis”. Jadi dari kalangan apapun dia, jika lebih mengedepankan emosi dan arrogansi, maka ia telah terindikasi sektarian. Karena ia sejatinya tak punya rasa empati dan cinta pada pihak lain, dan membungkus semua maksud-maksudnya dengan retorika keras yang membungkam orang.

Seorang radikal adalah seorang yang berakar. Ibarat pohon dia punya akar tunjang yang kokoh sehingga tumbuh menjadi pohon yang sehat dan menghasilkan buah yang ranum dan manis. Orang radikal jelas tidak sama dengan orang yang percaya pada dogma belaka dan berpikir absolut, mereka biasanya orang-orang yang tercerabut dan terlanjur. Golongan ini yang justru sangat rentan melakukan tindak pemaksaan dan kekerasan, pisik maupun simbolik, karena tak punya akar agama yang kuat sehingga merasa selalu diawasi oleh Tuhan. Seseorang atau kelompok dogmatis mudah sekali dibelokkan atau dipatahkan. Kemenangan kaum renesan mengalahkan dogmatisme abad pertengahan, kehancuran Nazisme Hitler, dan keruntuhan Uni Soviet yang abolutis adalah bukti nyata bahwa dogmatisme dan absolutisme belaka tanpa sikap radikal yang menghujam kuat kepusat keyakinan adalah lemah dan mudah runtuh.

Jika TNI/ ABRI tak menganut ideologi nasiomalisme radikal yang sakti mandraguna, yang senantiasa berpegang teguh pada Pancasila, dan prinsip persatuan, mungkin negara ini sudah jadi negara komunis. Negara-negara yang bisa diacak-acak oleh bangsa lain, atau ideologi aneh, komunis dan kapitalis, atau bubar sendiri, adalah negara-negara yang tak punya radikalisme dan pendirian yang tegas. Pecah dan rentan dalam dirinya, hingga mudah diinviltrasi dan dipenetrasi. Yugoslavia yang terbelah oleh regionalisme dan agama telah bubar. Libanon yang terbelah dalam agama dan aneka idologi agama juga sangat sakit-sakitan sejak dulu sampai kini..

Apakah jika Saddam Husein tak disibuki oleh pertentangan Sunni vs Syiah bisa jatuh? Di Timteng, hanya Iran yang berdiri tegak diatas faham Islam dan nasionalisme radikal yang bisa berkata tidak pada Amerika dan dunia yang bersifat Wild West. Orang sering mengkritik wahabisme, tapi justru itulah yang selama ini menyelamatkan Saudi Arabia dari rongrongan kaum Syiah dan keterpecahan dan keterjajahan. Karena komunis China punya persamaan dengan Idiologi sosial radikal Kong Hu Cu, maka ia tetap bertahan dan kuat sampai kini, bahkan telah mengancam dominasi kekuatan politik dan ekonomi AS di seantero dunia

Na, modal sosail itulah yang tak dimiliki oleh komunis Uni Soviet makanya cepat runtuh. Negara beruang itu pecah dalam etnonasionalisme yang akut, belum lagi antara pengikut nasionalisme Stalin vs internasionalisme Trotsky. Sehingga tidak bisa bersikap seradikal China. Karena radikalismenya, Hugo Chaves di Venezuela hanya bisa dikalahkan oleh kematian. Belum lagi bicara tentang radikalisme Fidel Castro di Cuba yang sukses menumbangkan rezim boneka Batista. Hanya Salvador Allende yang bisa digulingkan boneka Augusto Pinochet di Chile,mungkin nasinonalisme kurang radikal.

Jadi tak selamanya radikalisme itu buruk, kecuali yang suka melakukan pembunuhan dan menakut-nakuti orang, sipil maupun militer. Malahan pada saat tertentu ia bisa menolong dan menopang keselamatan suatu bangsa. Negara sebesar dan sekuat AS saja kini merasa perlu untuk bersikap radikal dalam berbangsa demi satu kemajuan atau kembalinya satu kejayaan, seperti yang ingin dipraktekkan Donald Trump di AS. Sejatinya yang bahaya atau menghambat kemajuan itu adalah prinsip sektarianisme, fundamentalisme yang cultisme dan idolatry yang memuja satu tokoh atau pemimpin tertentu dan menganggapnya sebagai Sang Raru Adil atau Sang Mahdi yang akan mnyelamatkan bangsa di akhir jaman. Lhp, memangnya kita sekarang berada di ambang kiamat!?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar