Minggu, 15 Maret 2015

PASSURA'


Dalam majalah Jalan-Jalan (Travel in Style), edisi Desember 2011, yang contennya berupa promosi dan iklan daerah destinasi wisata dalam dan luar negri, saya membaca tentang prospek wisata kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat yang dipromosikan secara apa adanya, sederhana, dengan ulasan dan gambaran yang kurang menjanjikan bagi peningkatan minat calon pengunjung atau wisatawan ke sana. Betapa tidak, jatah halaman yang hanya selembar itu, tidak dimamfatkan benar untuk membuat pembacanya terkesan dan langsung tertarik pergi ke Mamasa, dengan daya unkap dan ucap, verbal dan non verbal yang memikat dan persuasif.

Di sana hanya ada item “What to See” dan “Where to Stay” lalu cara untuk sampai ke Mamasa ( how to get there). Antara lain yang ditawarkan : Gereja tua Tawalian, Rantebuda, Desa Tanete, desa Nosu, desa Ballepau’ dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing. Gereja Tawalian diwartakan sebagai tempat berbaur umat Kristiani dengan penganut kepercayaan Aluk Todolo, sebagai bukti akulturasi yang berhasil dan tahun bedirinya gereja, tahun 1929. Satu-satunya gambar yang ditampilkan, ya gambar interior gereja itu dengan embel-embel dekorasi yang menggunakan pahatan khas Mamasa pada dinding dan mimbar. Sayangnya pahatan atau Passura itu bukan yang menjadi andalan daya tarik karena hanya dibicarakan secara selintas dalam satu kalimat saja dan penempatannya pun hanya tampak sebagai latar yang samar dan jauh tak terbaca . Malah dalam foto interior gereja tersebut yang mendominasi adalah keberadaan bangku-bangku kosong yang berderet-deret. Daya persuasinya seperti hanya untuk mengajak orang untuk datang beribadah ke gereja, karena ada suasana tenang dan asri di sana.

Penonjolan gambar interior gereja dengan passura yang samar-samar jelas tidak memenuhi criteria sebuah iklan wisata yang bisa menarik banyak orang dengan latar yang berbeda. Bagi orang Eropa, sebuah gambar gereja yang berdiri sepi di puncak bukit tepi desa mungkn akan lebih menarik untuk dicicipi aroma dan auranya, seperti keterpencilan gereja di puncak bukit di kaki pegunungan Alpen. Lagi pula bagi mereka keberadaan sebuah gereja sudah biasa di negrinya, kecuali yang punya nilai sejarah tinggi seperti gereja Katedral di Jakarta. Bagi wisatawan China, Jepang, atau lokal, tentu juga akan melewati begitu saja gambar gereja itu, kecuali mungkin jika ada penjelasan tentang “ Passura’” , karena itulah yang sejatinya bisa menjadi andalan bagi peningkatan minat orang ke Mamasa, turis atau ilmuwan.

Seharusnya pemda dan biro iklan yang mempromosikan wisata Mamasa itu lebih menonjolkan keunikan yang otentik dari budaya Mamasa yang adalah bagian dari budaya Toraja. Passura adalah yang memenuhi syarat untuk menjadi bahan perbincangan dari mulut-ke mulut lalu menciptakan reorganisasi kognitif pada kandidat wisatawan ke Mamasa. Tentu saja dengan cara penonjolan foto dan penjelasan yang memadai tentang itu. Passura adalah artikulasi simbolik dan sistem komunikasi dalam budaya Mamasa-Toraja. Ia member wibawa atau aroma mistis pada setiap banua, tongkonan, alang, bahkan gereja. Harus di jelaskan bahwa sebuah gereja, tempat tinggal atau banua surra’, akan beroleh status sosial yang tinggi dan terhormat dalam kehidupan sosial dan ritual masyarakat Toraja. Passura’ adalah sistem pembuka dan penyimpan makna dunia bagi masyarakat Mamasa-Toraja.

Makna otentik dari passura’ adalah suatu sistem yang tergambar untuk memberi makna dunia Toraja. Dalam pengertian itu, ia bukan sejedar tanda atau simbol, tetapi juga karya seni grafis ukir masyarakat Toraja. Dalam tradisi Toraja atau Mamasa, passura dimanifestasikan dalam bentuk ukiran ataupun lukisan. Dalam aplikasinya, passura’ dibagi untuk mendukung dua maksud: pesta Rambu Tuka ( panen), dan pesta Rambu Solo’ ( kematian). Hiasan-hiasan dalam bentuk passura’ untuk Rambu Tuka dan Rambu Solo’ tidak boleh bercampur aduk, masing punya pesan, makna yang terkait dengan tujuan pesta. Pada saat Rambu Tuka, seniman akan membuat motif-motif ; pa’bare allo, pa’tedong, pa’manu’, atau pa’susuk. Motif-motif ini menjadi bagian yang memperkaya dinding-dinding pada Banua Tongkonan ( rumah adat) atau Alang si lumbung padi. Sedangkan hiasan pada pesta Rambu Solo’, terlihat pada Sarigan ( bangunan untuk menyimpan jenasah) dan Erong atau peti mati.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar