Selasa, 23 Februari 2016

GAMBUH : BALI, JAWA DAN ISLAM

Pulau Bali atau pulau dewata sejatinya bisa juga dinamakan ‘ Pulau Kesenian’. Betapa tidak, hampir tiap tahun kita mendengar adanya tim kesenian Bali dengan berbagai jenis, gaya dan mutunya dikirim keluar negri menjadi duta seni dan budaya bangsa. Hal ini tentulah didukung oleh besarnya rasa seni sebagian besar penduduknya yang berdiam di desa-desa, banjar dengan sekahanya masing-masing, dan pastinya adanya dukungan dan perhatian pemerintah setempat. Disamping bentuk-bentuk keseniannya yang sedari dulu sudah banyak, para senimannya juga mudah sekali secara kreatif menciptakan bentuk-bentuk dan gaya seni yang baru dan disesuaikan dengan perkembangan jaman dan gelombang kehidupan masyarakatnya yang dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Sebagai contoh, Gong Kebyar adalah jenis kesenian yang sangat dipengaruhi oleh peri kehidupan orang Bali yang sudah mulai masuk alam modernisasi dan gaya hidup yang cepat, terburu-buru dan mekanistis.

Terciptanya sebuah kreasi atau pola seni yang baru sering terjadi secara spontan dan tanpa resistansi yang kuat dari para pendukung dan stake holdernya. Itu terlihat pada munculnya tari ‘ Oleg Temulilingan’ oleh seorang penari bernama Mario. Pada waktu menari oleg, ia membuat gerakan baru, ia mengambil ujung oncernya dan memainkan setinggi mungkin di atas kepalanya. Dengan demikian ia harus mengangkat sikunya lebih tinggi dari bahunya, dan lebih berani memperlihatkan ketiaknya. Pada tari Pelegongan yang dijadikan dasar untuk tari Oleg Temulilingan itu, menurut pakem klasik, sebenarnya siku penari tidak boleh lebih tinggi daripada bahunya. Jadi tari Oleg telah merombak pola dasar klasik itu, dan menciptakan pola yang baru. Begitulah deskripsi suatu evolusi seni yang tampak instan dan ngga nyelimet serta penuh awalan renungan dan konsepsi yang mboten-mboten, ternyata bisa diakui dan dterima masyarakat di Bali.

Seniman dan orang Bali memang selalu gandrung bereksplorasi dan mencari wilayah-wilayah garapan seni baru yang lebih segar dan up to date, sehingga terkesan tarian atau keseniannya seakan tak ada habisnya dan terus berkecambah. Mereka sangat fleksibel, mudah beradaptasi dan belajar hal-hal baru demi satu kreasi yang khas, otentik dan orisinal. Dan jika mereka mengadaptasi satu kesenian dari budaya atau daerah lain, maka itu dilakukan dengan kreatif dan penuh pendekatan serta sentuhan khas sendiri yang membuat seni adaptasi itu menjadi terasa dan tampak sangat Bali. Sehingga kalau bukan orang Bali sendiri yang mengatakan bahwa seninya itu berasal dari daerah anu, maka kita akan selamanya berada dalam kegelapan pada asal-usul seni tersebut.

Dan bukan hanya pada abad modern ini hal itu terjadi, tapi sejak dulu orang Bali telah punya keterbukaan serta reseptif sekali pada pengaruh luar dalam hal keseniam. Akulturasi budaya Bali dengan budaya lain seperti budaya Jawa atau kebudayaan Islam akan terlihat pada drama tari Gambuh. Tari Gambuh yang sudah sejak lama di Bali menjadi drama tari istana yang adiluhung, konon berasal dari jaman Majapahit di Jawa Timur. Dalam lontar Candra Sengkala disebutkan bahwa “Sri Udayana suka melihat orang-orang Jawa menari yang mempersatukan tari Jawa dengan tari Bali, menggabungkan yang kemudian disebuh Gambuh, pada tahun ḉaka 929 atau tahun 1007 Masehi”. Di sini takkan lebih jauh membahas tentang ketepatan masa lahir gambuh, hanya ingin melihat betapa gambuh telah menjadi wadah peleburan berbagai budaya di Nusantara pada jaman bahari.

Kebudayaan Bali ternyata punya kecendrungan besar untuk membuka dialog dengan kebudayaan lain, dan melakukan kembara lintas budaya dan agama guna menyempurnakan kebudayaannya sendiri. Salah satu lakon gambuh yang kena pengarug Islam atau yang bercorak keislaman adalah lakon lakon ‘Ammad-Muhammad’. Lakon kisah cinta dan perjalanan Ammad-Muhammad dengan ratu Magedab dari Mesir. Lakon itu dibubuhi dengan tari Cikepung serta tari Rengganis dimana nyanyian, dialog atau geguritan didalamnya bersumber dari lontar ‘Monyeh’, kisah perjalanan, peperangan dan percintaan raja Jayangrana dan ratu Rengganis.

Gambuh juga sangat terkait dengan cerita-cerita Panji dari Jawa, dimana dalam gambuh banyak menyebut nama tokoh-tokoh cerita panji atau para bangsawan di kerajaan Jawa Timur pada abad 12 /14, diantaranya Ken Bayan dan Ken Sangit. Sedangkan kedua tokoh wanita itu dalam hikayat Panji Semirang adalah emban atau pengasuh putri Cendera Kirana dari kerajaan Daha. Dalam Panji Semirang dikisahkan drama cinta putri Cendera Kirana dengan Raden Inu Kertapati putra mahkota raja Kuripan yang penuh belokan, lika-liku dan kejutan sebelum pada akhirnya berakhir happy end.

Berawal dari rasa iri Galung Ajeng, saudara tiri Cendera Kirana yang banyak disetir oleh ibundanya, Paduka liku. Selir raja Daha itu melakukan intrik-intrik, maka terusirlah Cendera Kirana dari Istana. Paduka liku ingin putrinyalah yang harus kawin dengan Inu Kertapati. Padahal antara Cendera Kirana dan Inu telah terjalin cinta dan ikatan pertunangan. Semasa pengusiran dan kembara itulah Cindera Kirana menyamar menjadi seorang lelaki dengan nama Panji Semirang. Kecewa karena kekasihnya, Inu Kertapati kemudian menikah dengan Galuh Ajeng, lalu Panji Semirang pun kembali menyamarkan diri dan berubah nama menjadi Warga Asmara, dan melakukan perjalanan dari satu tempat ketempat lain dengan kesenian Gambuh yang dibentuknya. Tentu saja ia selalu berpenampilan sebagai seorang lelaki. Padahal perkawinan itu hanya berusia semalam, karena raden Inu kecewa dan masih mencintai Cendera Kirana.

Dari kisah Panji Semirang kita bisa tahu bahwa memang gambuh telah ada sejak abad ke 11 hingga 13 masehi, dengan setting kerajaan-kerajaan Hindu Jawa. Dimana ketika itu gambuhpun telah mulai menyebar dan didaptasi oleh orang Bali. Hanya pada hikayat Panji Semirang gambuh masih menjadi kesenian rakyat yang berkeliling dari kampung ke kampung, kota ke kota demi kelangsungan hidupnya. Belum menjadi kesenian Istana yang adiluhung dan menjadi tari persembahan bagi para raja, seperti tari Pattu’du di Mandar atau tari bedaya di Jawa.

Dalam hikayat Panji Semirang dilukiskan betapa Gambuh Warga Asmara yang melakukan tur dan mentas dimana-mana, telah menjadi pujaan anak-anak muda. Banyak yang tergila-gila pada ketampanan atau kecantikan Warga Asmara yang adalah Cendera Kirana atau Panji Semirang, putri raja Daha. Para saudagar kaya dan tentu saja sementara bangsawan, berlomba-lomba untuk menanggap Gambuh Warga Asmara, menghamburkan uang demi gengsi itu, sehingga banyak yang berantakan keluarganya demi menonton Warga Asmara nan elok. Kelana Gambuh Warga Asmara itu dideskripsikan oleh S. Sastrawinata dalam roman Panji Semirang versinya terbitn Balai Pustaka 1963. Cerita Panji punya banyak versi, ada versi Jawa, Bali, Banjar, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, bahlan Filipina

Sebuah hikayat, dongeng, atau motologi memang bisa menjadi sumber sejarah atau bahan rujukan untuk mengatahui evolusi suatu kebuadayaan. Karena untuk mendapatkan kepastian tentang sejarah sebuah kesenian tari atau drama, adalah suatu usaha yang sukar dan penuh absurditas. Karena ia tak punya rekaman serupa partitur dalam musik klasik barat. Selebihnya ia hanya terdistribusi secara lisan, dari mulut ke mulut yang tentu saja akan mengalami banyak distorsi. Makanya sebuah cerita yang terkategori nyata atau fiksi bisa menjadi bahan rujukan. Yang lain adalah dengan membaca relief-relief pada candi –candi berupa adegan atau sequence yang menggambarkan adegan drama atau tari. Tapi kebanyakan candi di Jawa atau di Bali lebih bercerita tentang kisah-kisah Mahabarata atau Ramajana, serta ada juga yang mengangkat tema-tema Budha. Sebuah relief yang ditemukan di Gambyok Kediri, hanya mengambarkan tentang gerak terbatas tokoh Panji berserta para pengiringnya. Jadi sebuah hikayat, Panji Semirang misalnya, cukuplah untuk menjadi bahan untuk bercerita tentang evolusi serta diffusi suatu bentuk kesenian yang indah dan adiluhung di Bali, Gambuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar