Rabu, 09 Maret 2016

MUSIK REVOLUSIONER CLAUDE DEBUSSY

MUSIK REVOLUSIONER CLAUDE DEBUSSY



Awal kemunculan nada-nada disonan dalam musik yang menumbangkan dominasi nada-nada konsonan sering dikaitkan dengan Claude Debussy atau Arnold Schoenberg. Walau keduanya dianggap sebagai perevolusi sturuktur musik barat yang bertumpu pada harmony mayor-minor, namun sejatinya yang pertama membuat komposisi musik dengan menyertakan nada-nada disonan adalah Anton Rubenstein di tahun 1890. Kenyataan ini disampaikan oleh Steven Cassedy dalam kuliah umumnya di Universitas California, USA.

Sejak itu kemapanan musik standard barat yang bertumpu pada nada-nada konsonan dan tonalitas, mulai dipertanyakn dan dan dihujat. Para musisi, komponis mulai merasakan jenuh terlibat dalam penciptaan yang mengelus-ngelus kuping dan hati secara lembut dan mellow. Musik kamar atau simponi yang manis dianggap sebagai pembatasan pada hasrat mereka untuk berekspresi lebih total, dalam dan jauh. Persis ketika Khairil Anwar mencoba menumbangkan dominasi syair-syair pujangga lama yang dianggap sangat teratur, taat azas sekaligus menina bobokkan jiwa.

Claude Debussy adalah komponis yang mulai memasukkan unsur-unsur musik non klasik barat kedalam komposisinya secara kreatif, intens dan bertanggung jawab. Debussy lahir di St. German-en-Laya, Perancis, pada 22 Agustus 1862. Ayahnya seorang pedagang, dan ibunya hanya seorang penjahit. Namun bakat musik Debussy sangat besar. Dan semakin berkembang waktu ia menjadi siswa piano dan teori musik di Conservatoire Paris. Ayahnya berharap Debussy menjadi pemain piano konsert, tapi ujian-ujian pianonya dapat nilai rendah, sehingga harapan ayahnya dan harapannya juga untuk menjadi virtuoso piano gagal.

Debussy pun beralih mendalami komposisi. Dibawah bimbingan Guiraud, debussy yang menggemari chord dan progresi-progresi non tradisional barat mengalami kemajuan pesat. Di bidang komposisi inilah Debussy mendapatkan penghargaan kedua pada Prix de Roma di tahun 1829, dan setahun berikutnya menjadi juara satu dengan karya kantatanya, “ L’enfant prodigue.

Keterpesonaan Debussy pada musik-musik oriental adalah ketika berlangsung Pekan Internasioanal di Paris ditahun 1889. Sejak itulah ia mulai secara total meninggalkan tradisi musik barat yang akan diikuti oleh komponis-komponis kritis lainnya. Debussy kemudian menciptakan lagu yang berjudul ‘Pagodes”. Memang musik-musik Debussy tidak lahir dari ruang hampa, ia punya konteks dan referensi.

Debussy mengadopsi musik siklik dari Franck. Modalitas dipelajarinya dari Gabriel Faure. Ada juga pengaruh musik Barok padanya, serta musik hapsicord dari Couperin dan Rameau. Untuk membebaskan diri dari dominasi musik Wagner di jamannya, Debussy mulai mempelajari karya-karya komponis Rusia seperti Borodin serta Musorgsky. Ia beranggapan bahwa dalam musik Rusia yang berciri nasionalisme telah menggunakan nada-nada penuh dan modalitas. Musik Rusia itu dianggap dapat membebaskannya dari Wagnerisme. Namun dalam usahanya itu, Debussy tetap saja punya kekaguman diam-diam pada Richard Wagner sehingga pengaruh ‘leimotif Wagner padanya jelas nyata. Itu terlihat dalam “ Pelleas Cakewalk’.

Dunia sastra juga banyak mempengaruhi Debussy. Dalam Prelude de I’apres d’un faune’, Debussy nyata menghayati suasana dalam sajak Mallarme. Selama 25 tahun, cerpen-cerpen Edgar Allan Poe memberi kesan berarti pada Debussy. Ia menciptakan dua opera dari sana, namun tak pernah diselesaikannya atau dipentaskan. Debussy memang mampu menciptakan campuran dari musik-musik dan sastra yang mempengaruhinya secara radikal, sehingga berhasil menciptakn musik-musik yang berciri revolusioner yang ditandai dengan hal-hal sbb :

Debussy sering menggunakan tangga nada modal seperti Ionian, lidyan, mixolidyan, atau dorian. Dan juga Tangga nada penuh atau whole tone scale serta pentatonik scale karena pengaruh musik gamelan yang didengarnya di Pekan Musik Internasional Paris. Seperti kita tahu bahwa gamelan ada yang bertangga nada slendro atau pentatonik dan ada yang bertangga nada pelog. Kenapa debussy tak memamfaatkan pelog? Mungkin yang pentatonik dianggapnya mewakili keseluruhan musik-musik oriental sepeti yang ada di China, Jepang atau wilayah Asia Tenggara lainnya. Sedangkan pelog lebih berciri Jawa sentris.

Walau tak seradikal Arnold Schoenberg, Debussy sering membuat harmony yang keluar dari harmony mayor-minor barat yang sudah mapan berabad lamanya. Ia banyak menggunakan chord disonan tanpa persiapan atau meresolusinya sesuai dengan aturan harmoni umum. Jadi cadencenya tak terduga dan tak teramalkan. Akord septim, sembilan, atau sebelas sering dipakai dalam progresi musiknya. Sehingga dapat dikatakan inilah cikal-bakal harmony musik jazz, walau belum menyertakan not-not 13 atau modus penambahan atau pengurangan, sharp atau flat.

Pada piano, Debussy suka memamfaatkan pedal untuk mendapatkan efek yang idiomatik. Rajin bereksperiman untuk mendapatkan berbagai kemungkinan nuansa yang keluar dari piano serta cakupan rangenya yang mungkin. Tentu saja di jaman Debussy belum ada mic condenser atau dinamic seperti shure 57, 58 atau AKG yang mampu menangkap setiap detail dan range terpendam dari piano.

Last but not least, Debussy sering membuat orkestrasi yang sangat halus dengan memamfaatkan alat-alat musik kayu, horn, dan alat-alat musik tiup logam yang dipakai secara lembut dengan menaruh peredam suara. Orkes gesek dibuat menjadi lebih dari delapan suara. Bagi Debussy, warna suara hampir seimbang pentingnya dengan melodi, harmoni, ritme dan bentuk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar