Kamis, 15 Agustus 2013

LONTARA

Dari pembacaan tehadap Lontar Mandar Balanipa, terungkap fakta bahwa bahasa Mandar kaya dengan ungkapan-ungkapan, kiasan, metafora untuk menyatakan maksud tertentu,atau ide-ide, gagasan yang terkait dengan berbagai hajat, interaksi dan kegiatan. Seperti ketika Tosambainapong yang diperintah untuk dibunuh atau dijual oleh Puatta di Bonda-bonda karna sebuah pelanggran adat - menyembelih kerbau Bondara yang dianggap keramat atau sakti-, tapi Tonitattaq membela dan menjamin keselamatannya dan berkata " Selamatlah engkau. Jiwamu di dalam, jiwaku di luar.

Waktu Mandar diminta untuk berikrar pada Bone dan Kompeni, Maka Mandar berkata : Asalkan kemauan kami dituruti, benarlah itu. Setelah itu berdirilah raja Balanipa mencabut kerisnya, lalu ditikamkan ke air dan berkata : Ini keris yang saya tikamkan ke air untuk mengaduk air, di luar dia menyerang masuk, di dalam dia menyerang keluar, jika bone dan Belanda mendustai kami. Walau diucapkan dalam bahasa bugis, tapi hal itu menunjukkan keberanian dan kecendekiaan Mara'dia Balanipa ketika itu. Bunyi ikrar itu dalam lontara : Iya gajakku uwakgauangnge uwae, risaliwangi mangerre, tamai rilalengi mangerrek liwengngi, rekkuwa mubellengangngi Bone sibawa Balandae.

Dalam kaitan dengan kisah patriotisme dan keberanian Mandar tsb di atas, bagaimana bisa dimengerti sebuah penulisan sejarah yang mengatakan bahwa Mandar pernah jadi Palili atau daerah vassal ( taklukan ) kerajaan Bone. Kita tahu justru ada fakta sejarah dimana Daeng Riosso atau Tomatindo di Marica yang mengusir tentara Bone dalam sebuah perang penaklukan.

Satu hal yang menarik sekaligus mengenaskan dari analisa terhadap Lontar Mandar Balanipa tsb adalah, bahwa telah terjadi erosi beberapa kata asli dalam bahasa Mandar, termasuk pengguguran dan penggantian kata awalan maupun akhiran. Menurut tim peneliti Lontar tsb, awalan "U" dalam bahasa Mandar kuno, sekarang sudah punah sama sekali dan digantikan dengan awalan ' Ma ". Kata Pannoi sekarang ini, dulu diucapka dengan Pannoi'i. Demikian juga dengan kata " Sabaq " ( sebab ) yang sudah sangat populer penggunaannya sekarang ini, dahulunya tidak ada kata Sabaq di Mandar yang berarti sebab. Melainkan selalu diucapkan secara simbol / ungkapan ; " Nabeor bose" atau " Nabeto laya " ( arti sebenarnya " digeser dayung " atau ditendang layar yang keduanya berarti " Sebab " ). Misalnya dalam kalimat : Passengali nabeoraq bose annaq iqdaq pole madondong ( kecuali ada sebab, baru saya tidak datang besok ). Moaq iqdaq banda nabeto laya, sapole-pole madondong ( asal saya tidak ditendang layar, pasti saya datang besok ). Sekarang kalimat itu berganti jadi : Muaq andiang sabaq, sapole-pole madondong ( Kalau tak ada sebab/halangan, pasti saya datang besok.

Nah, agar ungkapan-ungkapan, kiasan-kiasan, dan kata-kata sastra yang terkandung di dalam Lontara bisa dinikmati serta dimamfaatkan bagi kemajuan masyarakat, hendaklah lontara jangan lagi disakralkan atau ditabukan untuk dibuka dan dibaca oleh khalayak umum. Aksara Lontara, sastra dan bahasa Mandar harus masuk sekolah kembali jadi mutlok yang membanggakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar