Selasa, 06 Januari 2015

PUISI-PUISI CINTA

Mana ada puisi yang tidak bicara cinta, dibuat dengan tak melibatkan atau menyimpulkan cinta. Puisi selamanya adalah pernyataan cinta, puisi sejak lahirnya adalah cinta karena lahir dari rahim cinta. Siapa bilang Wiji Tukul tak mencintai negaranya kendati kepada rezim yang berkuasa ia selalu menyerukan perlawanan dan memitoskan kata “ Lawan”. Siapa yang meragukan cinta Rendra pada RI walau kerap menerbitkan puisi-pusi pamflet yang mengeritik rezim developmentalisme di masanya. Sering dicekal dan masuk hotel prodeo karena pembelaanya pada Burung Kondor yang diinjak-injak oleh gajah kuno ‘ Sang Mastodom”. Kendati pernah memparodikan Ibu Tien Suharto dalam drama Shakespeare ‘ Hamlet’ yang digarapnya yang dilukiskan seperti mbok-mbok berkebaya dengan sanggul yang kelewat besar dan tak proporsional, tapi kecintaannnya kepada manusia dan masalahnya seperti tak berbatas. Lihatlah betapa empu sastra itu berteriak lantang ke empat penjuru diding kelam dan dingin, “Bersatulah Pelacur-pelacur Jakarta” lalu menulis pesan “ Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” Simpati dan empatinya pada orang-orang yang termarginalkan adalah bukti cinta yang tak pernah usai dan memanjang abadi sepanjang usia karya-karyanya yang tak ada matinya.

Jangan tanya soal cinta pada Chairil Anwar, ia jagonya. Dalam pusi “ AKU” yang telah jadi mitos atau ikon semangat perjuangan bangsanya, sejatinya adalah sebuah ekspresi cinta seorang anak kepada kedua orang tuanya yang bercerai. Dia menyesali perceraian itu sehingga menolak bujukan ayahnya untuk pulang ke Medan dan memilih tetap tinggal di Jakarta bersama ibundanya tercinta, kendati harus hidup susah dan menggelandang....Kalau sampai waktuku/ ‘ Ku mau tak seorang’ kan merayu/ Tidak juga kau.....jadi KAU di sini adalah ayahnya. Tentang hal ini, Asrul Sani yang mengungkapkannya dalam “ Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara: Puisi dan Prosa.

Siapakah penyair yang dapat begitu piawai dan luruh mengindah dalam mengungkapkan rasa cintanya kepada Tuhan, bangsa, negara, pemimpin atau kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Sang Binatang Jalang”. Jika tak percaya bacalah puisi-puisinya seperti, Doa, Diponegoro, Persetujuan dengan Bung Karno, Cintaku Jauh di Pulau, atau puisi abadi yang dianggap sebuah saduran tapi telah menganwar dalam, Krawang-Bekasi. Bahkan kepada neneknya ia punya Evergreen Love yang telah diungkapkan dengan perkasa dalam sajak Nisan. Untuk Nenekanda....Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertakhta.

Para seniman, sastrawan, penyair kadang jatuh dalam pusaran arus positif negatif cinta, kadang benci kadang rindu. Ambiguitas ini akan kian menyata jika cinta itu memar oleh tragedi kasih tak sampai, tolakan halus atau bahkan penghinaaan dan pengkhianatan. Dalam keadaan bersimpang jalan pun penyair akan tetap berceloteh tentang cintanya dan tidak akan dibuang begitu saja kesan, pesan dan kenangan yang telah mengendap di sepanjang jalan cinta. Bagi Chairil Anwar apapun nasib cinta yang dialami akan berubah menjadi ungkapan putis yang menenangkan asanya sendiri sekalian mencerahkan pembacanya. Bahkan kata-kata kasar dan keras pun akan jadi terasa indah di tangan seorang Chairil. Bacalah sajak Sia-Sia, maka ungkapan penutup sebagai klimaks dari rasa yang membuncah di sepanjang sajak, akan terbaca sebagai sebuah duri pada tangkai mawar yang selamanya indah dan segar dipandang mata...Ah! Hatiku yang tak mau memberi / Mampus kau dikoyak-koyak sepi...

Sikap ambigu dengan semangat benci tapi rindu para seniman atau sastrawan bisa diwakili oleh karya Sophocles dalan ‘ Oedipus Berpulang “ di bawah ini :
Sang Tiran selalu lahir dari pongahnya jiwa
Jiwa pongah yang disuapi gemerlap dunia
Jiwa pongah yang melambungi setinggi menara
Bakal terjebak jatuh ke bumi nyata
Kakinya goyah tak mampu bertahan
Tanpa harapan ia pun terkalahkan
Namun kumohonkan kejayaanmu
Tuhan kepada-Mu kami memuja
.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar