Kamis, 15 Agustus 2013

MUSIK DAN FILSAFAT

Dalam alam pikiran atau filsafat Timur, kosong atau hampa adalah kata bertuah. Dasar bagi segala dan sumber segala sesuatu, realitas yang senyatanya. Orang Bugis dan mungkin juga Mandar, mengawali adat, tradisi dan budayanya dengan kekosongan yang maha. De'watang atau tanpa wujud, dipuja dan dipercaya sebagai asal dari segala sesuatu dengan menyebutnya De'watasseuae atau addewatasseuae, ialah yang tidak wujud yang tunggal. Adat dibugis berasal dari sesuatu yang tak wujud itu. Ade' adalah ejawantah dari adde'e, sesuatu yang tadinya tak wujud, gaib, kosong, atau de'watang. Addewatangeng itulah ade' yang sama sekali berbeda dari pengertian adat dalam bahasa Indonesia. Maka rumus dan tata urutannya adalah sbb : Sadda mappabatti' ada / ada mappabatti' gau' / gau' mappabatti' tau ( bunyi mewujudkan kata, kata mewujudkan perbutan, perbuatan mewujudkan manusia ). Diyakini bahwa periode diam atau non eksistensi adalah sumber bunyi bagi aksara lonrtara, maka segala tanda-tanda bunyi dalam aksara lontarapun berbunyi mewujudkan kata, dan sampai pada segala perbuatan manusia yang disebut ade', pangadereng, rappang dan tuppu.

Mengherankan, seorang komponis musik kontemporer yang nyeleh dengan karya-karya musiknya yang aneh dan menggelikan, John Cake, secara tanpa sadar barangkali, mengangkat tema-tema tentang kekosongan dari tanah Ugi' itu sebagai awal dan dasar penciptaan musiknya. Konon Cake tertarik dan dipengaruhi oleh filsafat Zen-Buddhisme dan konsep-konsep Tao dari China. Tapi justru disinilah menariknya juga, karna lewat John Cake, kita bisa melihat keterhubungan falsafati diantara alam pikiran Timur yang sama-sama memuja dan memuji " kehampaan "

Tidak pada tempatnya membahas filsafat Zen dan Tao disini, karna sublim dan nylimetnya. Namun curiosity kita akan terpuas dengan membahas salah satu karya masterpiece John Cake yang di beri titel " 4.33'. Banyak yang menilai bahwa karya Cake itu sebagai provokasi atau pelecehan seni. Bayangkan, audience atau apresiator yang telah menunggu dengan lama, sabar dan antusias pagelaran karya Cake itu, tau-tau hanya disuguhi oleh ketiadaan, nol aktivitas dan nir bunyi. Cake tampil dan mulai dengan tidak membuat sesuatu. Dalam performancenya itu ada dua kali situasi " diam " dipotong untuk sekedar menandai awal mouvement berikutnya. dengan merubah sedikit posisi badan.

Bagi yang tak faham seluk-beluk falsafah kekosongan tentu saja akan merasa jengah dan bingung. Namun bagi Cake, karyanya tsb adalah suatu realisasi dan capaian diri dan musikalitas yang maksimal dan luar biasa. Sekaligus ia telah terbebas dari ego, dan keinginan yang adalah sesuatu yang patologis bagi diri dan keyakinan Zen- Buddihsmnya. Musik yang lepas dari subyektivitas itu, adalah konsekwensi mutlak dari credonya, bahwa " bunyi biarlah tetap pada dirinya " Baginya ' diam adalah akar bunyi " dan membiarkan bunyi-bunyi itu bermetamorfosis dengan sendirinya tanpa arahan dan bisa gaul dan lebur dengan lingkungan atau sebaliknya, para pendengar sendiri yang dapat menyelesaikan karyanya. Persepsi apresiator merupakan inti komposii itu. Termasuk lingkungan pada saat pagelaran itu sendiri serta bunyi-bunyi yang ada dan timbul secara kebetulan. Bagi Cake, hanya proses persepsi an sich yang penting.

Bingungkan?, dari pada tambah bingung mending kita sudahi bahasan tentang musik dan filsafat ini. Subyek filsafat memang membingungkan dan susah. Mending dandutan yuk, atau dengar lagu-lagu melaow........ Rendra mengatakan bahwa seni atau musik klangenan, ringan dan menghibur itu perlu juga bagi manusia .............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar