Senin, 06 Oktober 2014

QURBAN

Kita sering mendengar keajaiban dan keanehan para aulia yang keluar dari batas-batas logika dan sunnatullah. Misalnya kemampuan Imam Lapeo di Mandar yang mampu berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan ( bilokasi). Atau Imam Lakkading yang dengan hanya berjalan kaki mampu mendahului mereka yang naik bendi dari Somba ke Majene. Keanehan Imam Lakkading ini telah berkali-kali saya dengar dari kaum kerabat dan keluarga Mandar lainnya. Dari sudut pandang sufisme, mereka itu pantas disebut Waliullah, dan hal tersebut adalah suatu kewajaran mengingat kualitas iman dan ketaqwaan mereka yang tinggi sehingga mereka telah sampai pada maqam ‘qurbatallah’ yang memungkinkan untuk memiliki bernagai karomah yang bersifat adikodrati.

Syech Yusuf bin Sulaiman mengatakan, “ Wali ialah orang yang sangat dekat kepada Allah lantara penuh ketaatannya dan oleh karena itu Allah memberikan kuasa kepadanya dengan karomah dan penjagaan.” Sedangkan Syech Ibrahim al Bajuri berkata,” Karomah adalah sesuatu yang luar biasa yang nampak dari kekuasaan seorang hamba yang telah jelas kebaikannya dan ditetapkan karena adanya ketekunan mengikuti syareat dan mempunyai I’tikad yang benar.” Jadi karomah adalah suatu sifat kelebihan yang luar biasa sebagai hidayah Allah, tapi tingkatnya dibawah mukjizat pada Nabi.

Adakalanya memang cerita tentang karomah itu dilebih-lebihkan, tapi secara luas, audience barat maupun timur mengakui kebaradaan dan kebenarannya. Atas qodrat dan iradat Allah, karomah diberikan kepada siapa yang dicintai-Nya. Seperti yang telah diberikan kepada Siti Maryam yang terekam dalam Al-Qur’an, Ali Imran ayat 37 : “ Setiap Zakaria masuk untuk menemui maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata,” Hai Maryam, darimana kau dapatkan ( makanan) ini? Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah member rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

Menurut Syech Abdul Qadir Jaelani, puncak penghambaan pada Tuhan bukanlah ingin mendapatkan surga, melainkan keinginan untuk bisa kembali ke alam yang disebut al-jannah al-haqiqah wa al qurbah. Inilah alam kehidupan yang paling dekat dengan hadirat Tuhan. Di alam ini tak ada lagi sesuatu selain Allah, dan zikir yang selalu dilantunkan oleh para arifin adalah Allah Hu….hanya Hua yang ada, diri fana dan baqa dalam Allah. Dalam maqam ini bukan saja keanehan-keanehan dan kegaiban yang bisa muncul dari diri para kekasih Allah, tapi sering ucapan-ucapan Tauhid mereka dianggap nyeleneh dan menyimpang. Al Halaj mengatakan’ Ana Al Haq ‘ Abu Yazid bahkan mengatakan ‘’Tidak ada Allah selain Aku,maka sembahlah Aku…..Yang ada dalam jubah ini hanya Allah.” Sedangkan Syech Siti Jenar mengatakan antara lain dalam Sasahidannya,” Aku bersaksi di hadapan Dzat-Ku sendiri / sesungguhnya tiada Tuhan selain Aku/ Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku / Sesungguhnya yang disebut Allah itu badanku….”

Sejantinya memang para Wali itu kerap berada dalam keadaan ‘ fana an iradat ma siwa Allah’ atau lenyap dari yang selain kehendak Allah. Mereka justru tidak menyadari dirinya sendiri, ego hilang dalam penyaksian, mereka tenggelam dalam lautan ke-Tuhanan, seperti besi yang berada dalam lautan api. Jalaluddin Rumi menjelaskan bahwa ketika Al Hallaj mengatakan ‘ Ana Al Haq’ maka ini adalah kerendah hatian yang sangat, orang sombong adalah yang mengatakan ana abduh, karena ia secara tidak langsung mengatakan bahwa ada dualism, antara dirinya sebagai makhluk dan Allah sebagai Sang Khalik. Tentu saja pandangan ini dipengaruhi oleh Filsafat Neo Platonisme atau Filsafat Wahdatul Wujudnya Ibnu Arabi.

Kembali kepada keanehan Imam Lapeo dan Imam Lakkading, hal itu bisa diidentifikasi dengan adanya teori ‘ waktu yang bersifat sementara ‘ dan ‘waktu yang bersifat kekal’ yang dilalui oleh para sufi itu. Keanehan yang kita lihat pada mereka yang berada pada tingkat keimanan advance yang superlative itu sejatinya adalah kehendak Allah yang diperankan hamba-Nya yang akan terus kita saksikan hingga akhir zaman. Waktu yang kekal itu juga disebut Zaman Mulia atau maqam Qurban ( al-jannah wa al-haqiqah wa al-qurbah ) itulah yang sedang ditawarkan dan dibuka pintu-pintunya oleh Allah pada jutaan jemaah Haji Akbar dari seluruh penjuru dunia ketika melakukan wukuf di Arafah pada hari Jum’at kemarin.

Dengan simbol pakaian ihram, kaum pilgrimage itu sejatinya adalah para Fakir yang senantiasa menggantungkan diri kepada Allah dan meninggalkan yang selain-Nya. Sebuah hadis Qudsi berbunyi “ Mahabbati mahabbah al-furaqah.” Kecintaanku adalah kecintaan para fakir. Jadi siapapun ia terbuka untuk menjadi Kekasih Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim ( Al Khalil ) atau jadi solmet Allah asal ia benar-benar mau berkorban apa saja demi cintanya pada Allah. Cinta yang lain ditinggalkan demi Allah ; diri, keluarga, kemegahan atau kemewahan dunia, bahkan kenikmatan surga yang dibayangkan.
Nah, itulah makna kalimat tayyibah ‘Labbaik Allahumma Labbaik,’ membuang segalanya demi qurbatallah. Tidak meminta sesuatu apalagi yang bersifat transaksional yang justru akan membuat jarak serta menjauhkan diri dari Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar