Kamis, 17 November 2016

YANG RINGAN DAN YANG LUCU DARI MUSIK JAZZ


Seorang teman musisi, pakar musik jazz, jebolan Berkeley Music University di tahun 90 an mengatakan pada saya bahwa hanya Indra Lesmana yang bisa disebut sebagai pemain musik jazz di Indonesia. Sebenarnya saya meragukan statemennya itu, karena realitasnya saat itu banyak sekali musisi jazz yang beredar dan punya skill jazz yang handal dan mencengangkan. Sebut saja, Bill Saragih almarhum yang dulu sering kulihat datang ke Nirwana Sky Room Hotel Indonesia, untuk show dan jam session. Teman-teman musisi yang bermain tiap malam di Nirwana, yang rata-rata juga punya skill lebih dalam bermusik, dibuat kagum dan bengong oleh aksi uncle Bill, pada kemampuannya yang tinggi dan langka.

Bill Saragih tidak hanya gape berimprovisasi jazz pada lagu Girl from Ipanema misalnya, tapi juga sanggup menyamai timbre atau vibrasi suara Louis Amstrong dalam lagu Bluebery Hill. Dalam hati bertanya, apakah beliau sedang tidak bermain jazz, atau bukan pemain jazz sejati. Jawaban itu akhirnya saya dapatkan ketika ngobrol-ngobrol santai dengan beliau. Bahwa dulunya dia juga penggemar lagu-lagu pop dan suka sekali menyanyikan lagu-lagu daerah Sumatra, khususnya lagu-lagu batak. Makanya beliau sering berceloteh dalam entertainnya, bahwa jika di Amrik ada Frank Sinatra, maka di Indonesia ada Bill Saragih From Sumatra.

Konon beliau pernah ikut berlayar ke luar negri jadi pelaut demi menimbah ilmu musik di mancanegara. Hanya beliau tidak menjelaskan ke negeri mana saja, atau apakah metode pembelajarannya, belajar di sekolah, pada seorang guru privat atau lebih sering melakukan jam session dengan musisi dunia yang hebat. Jika membaca buku tentang Jazz yang beliau tulis beberapa tahun lalu yang intinya hanya tentang cara berimprovisasi musik jazz dalam aneka scale minim teori dan pendalaman, maka saya bisa mengkategorikan Bill Saragih sebagai penyuka musik jazz saja. Seorang musisi allround yang bisa bernyanyi dan bermain musik jazz.

Pra Budidharma lebih kaya bukunya tentang jazz. Dalam bukunya tentang jazz tapi diberi judul aneh “ Musik Kontemporer” , ( mungkin ia bermaksud mengarahkan jazz ke avantgardisme ala Alexander von Schlippenbach atau Manfred Schoof di Eropa ), Pra tidak saja menerangkan cara berimprovisasi, tapi sekalian cara membuat komposisi musik berlandaskan pada teori yang cukup dalam. Ia juga menulis tentang tangga nada kromatis dengan kemungkinan bentuk yang tak terbatas. Tapi ia juga karam dalam popisme sebagai bassist group band Krakatau yang rekaman lagu-lagu pop beraroma jazz. Seperti lagu mereka yang dinyanyikan Tri Utami, ‘ Amburadul ‘, Krakatau yang dulu dimotori Dwiki Darmawan, Gilang Ramadan atau Indra Lesmana, juga amburadul dalam mendasari musiknya, fusionnya saja sudah merupakan perpaduan aneka genre musik, belum lagi ambisinya untuk mengusung musik etnik, bahkan wolrd musik.

Memang rata-rata musisi yang menamakan dirinya pemusik jazz di Indonesia karakternya seperti Bill Saragih. Ada Ireng Maulana yang kerap juga rekaman musik yang sebenarnya bergenre musik pop kendati dikemas dalam balutan musik jazz, seperti dalam album Ermi Kulit dimana beliau bertindak selaku arangernya. Ermi Kulit sendiri tidak pernah mengaku sebagai penyanyi jazz, tapi penyanyi yang bisa menyanyikan lagu jazz. Ada juga Idang Rasyidi yang gemar menjazzkan lagu-lagu pop atau pop kreatif.

Seorang jazzer perempuan terkenal, Cut Deviana Daud Syah juga gemar menjazzkan lagu pop atau daerah. Lagu Inanikeke ditangannya jelas akan menghilangkan aroma kemiskinan seorang penjual kacang yang menjadi tema lagu tersebut. Dengan melibatkan chord-chord 9, 11 dan 13 plus bridge berupa diminished atau substitute chord, maka lagu alami tersebut cepat juga kehilangan lanscap alam Minahasa, atau Tonseanya yang indah. Mungkin orang Manado sendiri yang kebanyakan gemar lagu-lagu standar ringan punya Clif Richard atau Pat Boone misalnya, akan merasa asing dengan lagu daerahnya sendiri itu, lantas akan bertanya, “ Lagu apa jo itu kua”. Dan Cut Deviana yang separoh Aceh akan menjawab centil, “ Mar kong tidak ada larangan dalam syariah untuk beking lagu daerah jadi Lebeh jazzy no...” Menurut pengakuannya, ia sendiri adalah pemain dan guru musik klasik yang suka pada spontanitas musik jazz.

Bahkan Indra Lesmana sendiri yang disebut-sebut sebagai musisi jazz sejati di Indonesia, telah karam juga pada popisme yang industrial dan komersial. Ada beberapa rekmananya yang menunjuk kearah itu. dengar saja lagunya yang indah dan mellow, Aku Ingin atau Hanya Untukmu. Hanya lagu Reborn yang sedikit kental rasa jazznya. Apakah hal tersebut terjadi karena pengaruh istri-istrinya yang rata-rata cantik dan berlatar budaya pop, sebut saja TITI DJ atau Sophia Lacuba. Sejatinya musisi yang satu ini berbakat besar dalam jazz karena bapaknya juga adalah pemusik jazz yang handal dan terkenal, Jack Lesmana. Dan kemampuan dasarnya itu diperbesar dengan seringnya ia jam session dengan musisi jazz dunia, seperti Chick Korea.

Tapi dengan keterlibatannya yang cukup intens di dunia musik pop, tentu telah menggerus brandnya sebagai pemusik jazz sejati. Jadi apakah maksud ungkapan sebagai musisi jazz sejati terkait dengan konsistensi atau kekentalan dan kedalaman ekspresi bermain musik jazz?.......entahlah, musik atau dunia seni memang sering menyisakan tanya tak terjawab, dan ambiguitas. Barangkali yang bisa diharapkan bermain jazz secara murin nantinya adalah si jenius muda Joy Alexander. Tapi apa see arti kemurnian dalam musik atau seni. Adakah musik yang bisa lepas dari problem hibriditas atau gangguan intertekstuaitas. Jika dikatakan bahwa jazz sendiri adalah perpaduan unsur klasisisme Eropa dan African ritmik, belum lagi bicara kutipan dari unsur musik blues, country, atau ragtime, maka mungkin kita harus melupakan saja bicara tentang kemurnian, kesejatian dan konsistensi tentangnya.

Jika dulu orang suka bicara tentang jazz yang free, jazz yang bebas untuk berspontan ria, jazz yang ekspresif tapi masih terikat pada aturan tertentu, dimana improvisasi masih berdasar pada harmoni yang sudah given. Maka sekarang orang sudah sampai pada yang disebut Free Jazz yang menjebol segala definisi yang mungkin, bukan lagi harmoni yang menjadi dasar berimprovisasi, namun improvisasilah yang kini menjadi dasar bagi permainan harmoni. Kalau sudah begini adanya, maka dapatlah dikatakan bahwa jazz sedang dibakar di pemanggangan. Dan kita tidak tahu apakah ia akan menjadi hangus terbakar lalu menjadi arang. Atau malahan akan termurnikan kembali seperti sedia kala di awal kemunculannya sebelum direcoki oleh intervensi musik-musik lokal yang sejatinya politis. Tapi akan timbul pertanyaan lagi, dimana dan kapan itu terjadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar